eh di dunia tu ga ada orang sucilah.. ada juga yang sok suci, setuju ga ? kalo ga setuju berarti lo sok suci man ! Emang suci itu apa sih ? apa cuma baek dan ga punya dosa ? terus kalo baek ukurannya gimana ? kalo orang ga punya dosa gimana ngeliatnya ? GAK BISA Man.. kalo ada yang bisa bullshitlah.
Udah ah gue juga berdosa.. maap yeeee...
keabadian iblis
tinggalkan bayang di kesenyapan
ringkih keluh sesal semua jadi satu
semua pedih dan luka pun ikut disana
air mata yang terlinang pun mendanau
disini sesak oleh rasa dendam dan amarah
di tempat ini iblis dilahirkan
kapan rasa ini cair
dan siapa yang bisa membunuh iblis itu
lelah sudah menanti waktu itu datang
semuanya hanya bisa membisu dan menuli
biarlah iblis meraja disini
sampai saat itu datang
dan musnahlah kau iblis
dan redalah dendam dan amarah
tapi kapan waktu itu datang
sebuah ancaman penuh teror terhadap sisi kelam kehidupan yang terus menerus meluas.
2004/11/02
2004/11/01
?
ada kalanya jiwa terasa kosong dan rasanya ada yang kurang, tapi kita tu engga tau apa yang kurang dan apa yang hilang. Kalo ga tau terus kita mau nyari kemana nyari supaya jiwa kita tu jadi utuh lagi ? bingung kan, iya gue juga bingung soalnya sering banget ngerasa kurang !
ada yang kurang disini
hari ini gelap tak bersinar
sperti malam yang dihantui gerhana bulan
dimana jiwa yang ria dan hati yang senang
terakhir kali kulihat kalian masih gembira
apa kalian sudah punah
atau kalian bersembunyi
ah baiknya kutunggu saja
mungkin kalian akan merasa rindu
atau ....
mungkinkah kalian sudah menjadi angkuh
kenapa ini harus ada
dan masih banyak pertanyaan lain
pertanyaan yang besar dan tak terjawab
tolong kembalilah apapun kau sekarang
terangi dan ramaikan suasana hari ini
ada yang kurang disini
hari ini gelap tak bersinar
sperti malam yang dihantui gerhana bulan
dimana jiwa yang ria dan hati yang senang
terakhir kali kulihat kalian masih gembira
apa kalian sudah punah
atau kalian bersembunyi
ah baiknya kutunggu saja
mungkin kalian akan merasa rindu
atau ....
mungkinkah kalian sudah menjadi angkuh
kenapa ini harus ada
dan masih banyak pertanyaan lain
pertanyaan yang besar dan tak terjawab
tolong kembalilah apapun kau sekarang
terangi dan ramaikan suasana hari ini
2004/08/24
warna itu membunuh
kamuflase alam
deru debu semilir mengisak rerumputan
sampai cokelat dibuatnya
aneh
rumput koq cokelat ya ?
apa sudah kering atau terselimuti pasir
lirik ke jauh disana pun hadir
semakin parah
pohon tak berdaun ?
apa sedang gugur atau memang mati
sekarang lihat ke atas
tambah bingung
langit sekarang berwarna kelabu ?
apa sedang mendung atau kiamat sudah dekat
sudah nampaknya lebih baik buta
daripada harus tetap melihat
dan semakin banyak pertanyaan
namun tak satupun terjawab
padahal hanya tentang warna
tapi membunuh dan menyesak di dada
deru debu semilir mengisak rerumputan
sampai cokelat dibuatnya
aneh
rumput koq cokelat ya ?
apa sudah kering atau terselimuti pasir
lirik ke jauh disana pun hadir
semakin parah
pohon tak berdaun ?
apa sedang gugur atau memang mati
sekarang lihat ke atas
tambah bingung
langit sekarang berwarna kelabu ?
apa sedang mendung atau kiamat sudah dekat
sudah nampaknya lebih baik buta
daripada harus tetap melihat
dan semakin banyak pertanyaan
namun tak satupun terjawab
padahal hanya tentang warna
tapi membunuh dan menyesak di dada
2004/08/17
59
merdeka ?
59 tahun sejak prokmalasi dibacakan oleh bapaknya mega
sejak saat itu setiap kelok dan jalan berlubang sering hadir
tapi selama itu juga jalan yang dilewati tetap sama
tiada yang berubah menjadi lurus dan rata
apa jalan itu hanya mimpi belaka
setiap kita yang hidup di tanah ini punya tanggung jawab
tanggung jawab sebagai perata dan pelurus
bersatu jangan hanya pada bulan ke 8 hari ke 17 saja
raih jalan itu
tempuh semuanya
dan gapailah mimpi indonesia
dirgahayu republik indonesia ke 59
59 tahun sejak prokmalasi dibacakan oleh bapaknya mega
sejak saat itu setiap kelok dan jalan berlubang sering hadir
tapi selama itu juga jalan yang dilewati tetap sama
tiada yang berubah menjadi lurus dan rata
apa jalan itu hanya mimpi belaka
setiap kita yang hidup di tanah ini punya tanggung jawab
tanggung jawab sebagai perata dan pelurus
bersatu jangan hanya pada bulan ke 8 hari ke 17 saja
raih jalan itu
tempuh semuanya
dan gapailah mimpi indonesia
dirgahayu republik indonesia ke 59
2004/08/11
sedikit cerita
Aku menangis untuk adikku 6 kali
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang
sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku
membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai
seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya
membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci
ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan
sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?"
Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk
berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun
mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai Beliau
kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas
ranjang batu bata kami dan memarahi,
"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang,
hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di
masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai
mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam
pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia
tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai
menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku
dengan tangan kecilnya dan berkata,
"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya
sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak
memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak
pernah akan lupa tampang adikku ketika ia
melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun.
Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di
SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat
kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap
rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut,
"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan
menghela nafas,
"Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan
ayah dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,
telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku
pada wajahnya.
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat
lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis
di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua
sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di
dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan
tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku
yang membengkak, dan berkata,
"Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini."
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh
datang, adikku meninggalkan rumah dengan
beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang
yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping
ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas
bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya
akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat
tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran
sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17
tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun,
dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut
semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku
akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
teman sekamarku masuk dan memberitahukan,
"Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar
sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh,
seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan
pasir. Aku menanyakannya,
"Mengapa kamu tidak bilang pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum,
"Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan
mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu?
Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi
mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku
semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,
"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu
adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku,
dan terus menjelaskan,
"Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi
saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan
menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20.
Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih
di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari
seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak
waktu untuk membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum,
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat
luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang
kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa
menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada
lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja
di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada
kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak
menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan
tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir
deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota.
Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang
tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi
mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan,
sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu
harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,
mengatakan,
"Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu
dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya.
Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan
sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja
reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat
sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,
"Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan
sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu
sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia
membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi
manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan
dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian
keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:
"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia
berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi
seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu
bertanya kepadanya,
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
"Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada
dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya
berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan
pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu
dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu
dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan
berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah,
tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang
sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama
saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima
kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini,
di depan kerumunan perayaan ini, air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six
times"
well ceritanya engga terlalu menyentuh tapi sumpahnya itu edan banget, masa masih kecil udah buat sumpah udah gitu ditepatin, rock n roll, gue punya tulisan abis baca cerita itu, gak nyambung sih tapi lumayanlah untuk dibloggin.
untuk apa kuatir
surya kembali menampakkan keangkuhannnya di timur sana
berat rasanya menapak pagi ke siang lalu malam
hari ini apa yang akan kudapatkan
dan apa yang akan hilang dariku
atau hari ini sama dengan nol
tidak ada yang hilang dan tidak ada yang kudapat
apa hari ini tuhan masih mengatur jalan hidupku
lalu kuambil waktu kurang dari satu menit
dan akhirnya kudapatkan
hatiku masih teguh berpegang akan rancangan hidupku
rancangan tuhan masih terstruktur rapih di jalanku
hilang semua cemas dan ragu
apa arti masa lalu yang suram
gerutuanku tadi itu seharusnya tidak pernah hadir
sekarang saatnya bangun dan bangkit
selagi jantung berdetak darah mengalir
berlarilah gapai semua mimpi dan citaku
bumi akan tetap indah dengan suryanya
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang
sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku
membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai
seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya
membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci
ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan
sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?"
Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk
berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun
mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai Beliau
kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas
ranjang batu bata kami dan memarahi,
"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang,
hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di
masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai
mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam
pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia
tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai
menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku
dengan tangan kecilnya dan berkata,
"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya
sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak
memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak
pernah akan lupa tampang adikku ketika ia
melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun.
Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di
SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat
kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap
rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut,
"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan
menghela nafas,
"Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan
ayah dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,
telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku
pada wajahnya.
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat
lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis
di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua
sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di
dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan
tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku
yang membengkak, dan berkata,
"Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini."
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh
datang, adikku meninggalkan rumah dengan
beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang
yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping
ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas
bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya
akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat
tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran
sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17
tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun,
dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut
semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku
akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
teman sekamarku masuk dan memberitahukan,
"Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar
sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh,
seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan
pasir. Aku menanyakannya,
"Mengapa kamu tidak bilang pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum,
"Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan
mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu?
Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi
mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku
semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,
"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu
adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku,
dan terus menjelaskan,
"Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi
saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan
menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20.
Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih
di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari
seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak
waktu untuk membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum,
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat
luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang
kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa
menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada
lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja
di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada
kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak
menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan
tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir
deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota.
Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang
tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi
mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan,
sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu
harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,
mengatakan,
"Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu
dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya.
Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan
sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja
reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat
sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,
"Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan
sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu
sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia
membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi
manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan
dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian
keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:
"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia
berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi
seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu
bertanya kepadanya,
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
"Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada
dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya
berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan
pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu
dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu
dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan
berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah,
tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang
sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama
saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima
kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini,
di depan kerumunan perayaan ini, air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six
times"
well ceritanya engga terlalu menyentuh tapi sumpahnya itu edan banget, masa masih kecil udah buat sumpah udah gitu ditepatin, rock n roll, gue punya tulisan abis baca cerita itu, gak nyambung sih tapi lumayanlah untuk dibloggin.
untuk apa kuatir
surya kembali menampakkan keangkuhannnya di timur sana
berat rasanya menapak pagi ke siang lalu malam
hari ini apa yang akan kudapatkan
dan apa yang akan hilang dariku
atau hari ini sama dengan nol
tidak ada yang hilang dan tidak ada yang kudapat
apa hari ini tuhan masih mengatur jalan hidupku
lalu kuambil waktu kurang dari satu menit
dan akhirnya kudapatkan
hatiku masih teguh berpegang akan rancangan hidupku
rancangan tuhan masih terstruktur rapih di jalanku
hilang semua cemas dan ragu
apa arti masa lalu yang suram
gerutuanku tadi itu seharusnya tidak pernah hadir
sekarang saatnya bangun dan bangkit
selagi jantung berdetak darah mengalir
berlarilah gapai semua mimpi dan citaku
bumi akan tetap indah dengan suryanya
2004/07/30
Prihatin sama AFI
Yeah.. AFI sekarang sudah kayak sinetron Tersanjung, saat ini sudah ada AFI 2 bentar lagi 3 dan AFI Junior pun udah ada, memang bagus menyaring benih2 "penyanyi", iya pertamanya kalo enggak salah AFI dibuat untuk dapetin orang yang memiliki talent apa saja bukan hanya menyanyi.. dari tujuan utamanya AFI udah totally wrong menurut gue, walaupun pendaftaran geratis tapi sepertinya masih aja ada yang lewat "belakang" untuk bisa jadi finalis AFI ini, bukti gak ada sih, tapi gue yakin itu terjadi karena ini kan Indonesia gitu loh.
Lagi2 salah menempatkan sesuatu salah pada tempatnya, Indonesia memang kaya akan budaya dan seni, tapi untuk iptek kita jauh ketinggalan, ya walaupun ada sih yang maju tapi itu kan gak banyak dan mungkin bisa dihitung dengan jari, so untuk hal perAFIan gitu kayaknya perlu direconstruct ulang deh, dan tempatkan sesuai porsinya.
berikut hasil pendapat anak2 yang ada di friendster di Bulletin Boardnya tentang AFI, di friendster juga ada para bintang AFI tapi engga ada komen deh.. hehe
Bulletin Board - Friendster
::trebor::
AFI part 2 cool ....
but untuk akademi kaya gini koq sepertinya
diutamakan banget ... ga proporsional ama
akademi bidang yang laen...( jijay gw liat yg
histeris banget nonton AFi )
penting but ga PENTING BANgetZ khan !!!
CINDY.... loe mirip gebetan gwweeeeeeeeee !!
huhuhuhuhuhuuuuuu
sakitjiwaz:
apa itu AFI? daripada nonton AFI mendingan
nonton
burgerkill live on stage gwa mah
[de®i] :
AKADEMI FUCKTANSIA INDONESIA
AKADEMI FASISME INDONESIA
Apakah kita akan diam saja melihat mereka
menanamkan bibit bibit kehancuran kultural dan
moral pada anak kita .. AFI hanyalah exploitasi
tak berpendidikan pada anak muda indonesia
untuk
satu tujuan "komersil"... Hanya ada satu kata
LAWAAAANNN
Afi????
mendingan KDI deh...
AFI tontonan para jomlo, malam minggu kok ada
dirumah ckckckckc....
Message: Gue benci AFI karena.....
Message: "mempertontonkan perbuatan bodoh
secara
terbuka.
Mosok saingan di-eliminasi pake dinangisin, di-
peluk2, dicium (curu-curi kesempatan ya?),
bukannya harusnya senang/bangga bisa
ngalahin
pesaing yang lain? C'mon, this is a tough world,
man!"
--Endy--
AFI Suck,itu mah buka ajang utuk nyari karakter
suara original penyanyi tapi hanya untuk
sekedar
nyari popularitas belaka....Anjing kapitalis tu
event cuma buat komersil doank...
-AJO-
Diah-->bawa tas geredekan kaya tukang DVD
Tiara:
Gue benci AFI karena gue cinta KDI!!!!
~ BuLan ~
HuahuHua..ancur emang lo tir..!??!!
ato beneren lagi lo suka KDI..Busyeett..ngaco
bratt..Gue benci AFI karna terlalu diforsir
orangnya stlh keluar..jadi ga mentingin Quality
lg..in the end pasti hilang..sian dey
Danang
gue benci karena KOPER
arga
Gwe benci AFI 1 (cowo2nya kaya bencong
taman
lawang dan suaranya pengen nutup kuping kalo
denger)dan AFI 3 (udah basi)...kalo AFI 2 gwe
seneng soalnya ada nia huhuhhuh
laura:
ga suka!!!!!
Mendingan nonton Indonesian idol yang jelas2
lebih berkualitas!!!!Joy menang!!!
Septo:
Hmm afi 2 lumayan...ada cindy ehhehehe...
tapi mendingan nonton indonesian model..ada
gita.ekkekeke...
ReRe:
SALAM AKADEMIA, gak mungkin gue gak suka
AFI...
gila ya ... Adi Nugroho kan lucu, jadi gue gak
perduli sama akademianya... hidup ADI
NUGROHO
myra :
afi? apakah tv2 di dunia ini sudah tidak punya
acara yg lbh berkualitas lagi?? animal planet
itu
lebih bagus..hewan2nya lebih lucu2 drpd
penyanyi2
di afi
*Aish* :
Wakksss,afi?? Silly idea, over reacting, nggak
bermutu,too much exposed yg gak perlu,abg
banget,terlalu komersil yg dibuat-buat,terlalu
banyak jual mimpi..Ampe anak kecil mau aja
bunuh
diri pake baygon gara2 afi!!!!Bah,pokoknya
ancur
lah bangsa 'ni gara2 afi...
*ardhi* :
AFI yah...hm...
aa gym pernah bilang...
ketenaran yang didapat sesaat maka akan
hilang
dengan cepat pula...
klo gw seh terserah aja smua tipi bikin
acara...yg jelas gw akan nonton yg bermutu
tinggi...kayak IDOL gitu deh...
HenrY :
AFI..namanya juga Akademi FANTASI
Indosiar.Yg
dijual juga cuman fantasi ato mimpi-mimpi doank
ky
sinetron indonesia..kualitas suara-nya yg bagus
cuman 1 ato 2 orang aja..yg lainnya spt kt juri
Indonesian Idol STD(standard)...
gw lebih suka Indonesian Idol.. hidup Joy...!!!
JOY TO THE WORLD IDOL.....
---rdp---
AFI tuh ga bagus, mendingan gue nonton IDOL
aja.... hayo siapa yg dukung HELENA
==============end==================
Cerita lain di balik AFI
PART 1
AFI Versus IPA
Oleh : Ade Armando (Dosen UI dan Pengamat Media)
Pernah dengar nama Yudistira Virgus? Atau, Edbert Jarvis Sie? Atau,
Ardiansyah? Andika Putra? Atau, Ali Sucipto?
Kalau Anda menganggap nama-nama itu terasa asing di telinga, jangan
berkecil hati. Maklumlah, mereka memang tidak cukup diekspos media massa.
Jangankan tampang, nama mereka saja tidak hadir di halaman satu surat
kabar, di halaman depan tabloid dan majalah, apalagi di prime time siaran
televisi dan radio kita.
Dibandingkan Veri, Kia, dan Mawar (tiga finalis AFI), misalnya, pemberitaan
soal Yudistira dan kawan-kawan bisa dibilang 'cuma seujung kuku'.
Padahal, prestasi mereka sangat membanggakan. Mereka berlima semua siswa
SMA membawa Indonesia menempati peringkat lima besar dalam Olimpiade Fisika
Internasional di Pohang, Korea Selatan, yang baru berakhir Kamis lalu.
Dalam ajang prestisius yang diikuti 73 negara ini, Indonesia hanya berada
di bawah Belarusia, Cina, Iran, dan Kanada. Negara-negara besar seperti AS,
Jepang, atau Jerman dilibas. Yudistira merebut medali emas untuk kategori
total ujian teori dan praktik (eksperimen), sementara keempat teman lainnya
merebut medali perak dan perunggu.
Tapi, begitulah Indonesia.
Pencapaian dalam kemampuan menguasai atau mengembangkan ilmu pengetahuan
tidak memperoleh perhatian besar. Remaja Indonesia, sejak kecil, diajarkan
untuk justru mengagumi hal-hal tidak mendasar.
Lihat saja bagaimana saat ini ribuan remaja Indonesia berduyun-duyun
mengikuti berbagai ajang kompetisi adu tarik suara atau bahkan adu
kecantikan. Impian 'menjadi bintang' terus dipompakan ke benak bangsa ini.
Program seperti AFI dan semacamnya tidaklah buruk. Tapi, skalanya sudah
menjadi begitu besar dan sama sekali tidak proporsional sehingga bisa
menyesatkan rentang pilihan yang terbayang di benak bangsa ini.
Indonesia adalah negara miskin dan terbelakang. Salah satu syarat utama
untuk mengatasi ketertinggalan ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Karena itu, negara ini membutuhkan penghibur (entertainer) dalam
jumlah 'secukupnya' saja.
Kita tentu perlu mensyukuri lahir dan tumbuhnya sebuah generasi muda yang
cantik, gagah, pintar menari dan bernyanyi, atau berakting; namun kita
memerlukan lebih banyak lagi orang pintar.
Kepintaran rupanya memang tak dianggap punya daya tarik tinggi. Akibatnya,
media massa tidak memberi tempat cukup bagi prestasi yang terkait dengan
'keunggulan otak'.
Tanpa disengaja, media tidak mengondisikan masyarakat untuk menghargai
'kepintaran'.
Bahkan, di siaran televisi, lazim kita melihat bagaimana kaum ilmuwan
ditampilkan secara karikatural: sebagai profesor pikun beruban dan
berkacamata tebal yang tidak punya kehidupan sosial. Pasokan sumber daya
manusia unggul di negara ini dipinggirkan.
Tentu saja bukan cuma media massa yang berkonstribusi. Kita misalnya juga
tidak melihat upaya serius pemerintah untuk memelihara dan mengembangkan
kualitas brainware ini.
Yudistira dan kawan-kawan pun bisa saja akhirnya tidak akan dapat
dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka keburu digaet pihak
asing.
Yudistira misalnya dikabarkan sudah memperoleh beasiswa dari sebuah
universitas teknologi di AS. Dikabarkan pula dua anggota tim Olimpiade
Fisika sudah diterima Nanyang University of Singapura (NUS).
Maklumlah, perguruan tinggi asing ini aktif mendekati para calon ilmuwan
terbaik yang mereka dapati di ajang internasional, sembari mengiming-imingi
beasiswa, jaminan hidup, dan bahkan jaminan kerja Sementara Indonesia,
hanya mengamati mereka dari jauh.
Tidak pernah dengar nama Yudistira Virgus? Tidak apa-apa, kok. Ia cuma
pemenang medali emas di Olimpiade Internasional!
PART 2
Diterima di ITB Malah Kebingungan
PEMENANG konser Akademi Fantasi Indosiar (AFI) boleh tersenyum lega,
sebab setelah konser usai, mereka segera mendapat tawaran rekaman
atau nyanyi dan dapat uang dari berbagai sumber. Tidak demikian
halnya dengan pemenang Olimpiade Biologi Internasional.
Usai mendapat 'penghargaan' dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah
(Dikdasmen), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sebesar Rp5
juta per orang, mereka tambah miris dengan masa depan mereka sendiri.
Sebab, bukan tawaran main sinetron, hiburan ataupun tawaran model
iklan dari berbagai produk yang berarti bakal dapat duit.
Sang juara Olimpiade itu harus berpikir keras bagaimana mencari duit
untuk kelangsungan sekolah mereka. Seperti yang dialami Mulyono,
pemenang medali perunggu Olimpiade biologi dari SMAN di daerah Pare,
Kediri, Jawa Timur (Jatim).
Mulyono mengaku dirinya telah diterima masuk di Institut Teknologi
Bandung (ITB) jurusan mikrobiologi melalui ujian saringan masuk yang
diterapkan oleh ITB sebelum SPMB berjalan. Untuk meringankan siswa
yang orang tuanya petani itu, Mulyono mendapat dispensasi tidak harus
membayar uang masuk yang besarnya sekitar Rp45 juta, tetapi untuk
biaya kuliah serta biaya hidup selama di Bandung masih tetap menjadi
pikirannya.
"Ya, itulah yang mengganggu pikiran saya, dari mana saya harus
mendapatkan uang," katanya lirih. Peraih medali perak dalam lomba
sains nasional yang diselenggarakan di Balikpapan belum lama ini,
sedang berusaha mencari sponsor agar dirinya bisa memperoleh dana
bagi kelangsungan sekolahnya kelak.
Mulyono sempat bingung menghadapi uang kuliah yang besarnya Rp1,7
juta per semester, belum lagi biaya hidup di Bandung yang berdasarkan
pemantauannya lebih dari Rp400.000 sebulan. "Tanpa adanya beasiswa
atau sponsor, mustahil saya bisa kuliah di sana," kata Mulyono.
Kondisi serupa juga dialami Ni Komang Darmiani yang bersama-sama
dengan Mulyono pergi ke Brisbane, Australia untuk membawa nama bangsa
dalam Olimpiade Biologi tersebut, masih bingung terhadap masa
depannya. Darmi mengaku telah diterima di Fakultas Kedokteran,
Universitas Udayana melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK).
Namun, sebelum berangkat ke Brisbane untuk membuktikan bahwa bangsa
Indonesia bukanlah bangsa terbelakang dengan cara ikut olimpiade
sains, Darmi sempat bingung karena ia diwajibkan membayar uang
pangkal dari Universitas Udayana sebesar Rp11 juta.
Ketika pulang dari Australia dan Dirjen Dikdasmen memberikan
uang 'penghargaan' sebesar Rp5 juta dirinya sempat bergumam, "Wah,
masih kurang Rp6 juta lagi."
Terbayang di hadapannya, orang tuanya yang guru SMA, harus berusaha
keras menyediakan kekurangan biaya tersebut, belum lagi biaya
semester yang harus dibayarnya serta biaya hidup di Denpasar kelak
bila ia belajar di Universitas Udayana.
Letak Denpasar sangat jauh dari kediaman orang tuanya di Desa Bila,
Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Singaraja. Artinya, selama menuntut
ilmu mau tidak mau ia harus indekos karena tidak ada famili di sana.
Anugerah AFI yang hanya diselenggarakan di Indonesia begitu besar,
tetapi mengapa anugerah Peraih Medali Perunggu olimpiade sains Cuma
sebesar itu. Kapan masyarakat bumi tercinta ini mulai menghargai anak
bangsanya yang telah membawa harum di dunia internasional. Jadi,
kapan bangsa ini mulai menghargai orang cerdas dan pintar? (Hru/B-1)
Sumber: Media Indonesia - Kamis, 22 Juli 2004
2 bait tulisan
sisi lain
lihat geliatnya di sana
apa yang hinggap
dan apa yang terserap
tidak tercerna dengan baik
tidak terolah matang matang
kini sudah dalam
sudah terkontaminasi
teracuni dan terkarbonasi
sakaw akan omong kosong belaka
tiada titik cerah
gak ada mata hati
semuanya salah dan rusak
coba sejenak kosongkan pikiran
lihatlah setiap tindak tanduk
ambil sisi lain dari hidup
teropong masuk kedalamnya
semua pasti terlihat jelas
koreksi dan angkat jiwamu dari sana
setelah terbang melayang dan jatuh
bangkitlah
mulai dari akar lagi
lurus tidak berkelok
masa depan masih cerah dan panjang
masih jadi impian di hati
raihlah dengan bersih
Lagi2 salah menempatkan sesuatu salah pada tempatnya, Indonesia memang kaya akan budaya dan seni, tapi untuk iptek kita jauh ketinggalan, ya walaupun ada sih yang maju tapi itu kan gak banyak dan mungkin bisa dihitung dengan jari, so untuk hal perAFIan gitu kayaknya perlu direconstruct ulang deh, dan tempatkan sesuai porsinya.
berikut hasil pendapat anak2 yang ada di friendster di Bulletin Boardnya tentang AFI, di friendster juga ada para bintang AFI tapi engga ada komen deh.. hehe
Bulletin Board - Friendster
::trebor::
AFI part 2 cool ....
but untuk akademi kaya gini koq sepertinya
diutamakan banget ... ga proporsional ama
akademi bidang yang laen...( jijay gw liat yg
histeris banget nonton AFi )
penting but ga PENTING BANgetZ khan !!!
CINDY.... loe mirip gebetan gwweeeeeeeeee !!
huhuhuhuhuhuuuuuu
sakitjiwaz:
apa itu AFI? daripada nonton AFI mendingan
nonton
burgerkill live on stage gwa mah
[de®i] :
AKADEMI FUCKTANSIA INDONESIA
AKADEMI FASISME INDONESIA
Apakah kita akan diam saja melihat mereka
menanamkan bibit bibit kehancuran kultural dan
moral pada anak kita .. AFI hanyalah exploitasi
tak berpendidikan pada anak muda indonesia
untuk
satu tujuan "komersil"... Hanya ada satu kata
LAWAAAANNN
Afi????
mendingan KDI deh...
AFI tontonan para jomlo, malam minggu kok ada
dirumah ckckckckc....
Message: Gue benci AFI karena.....
Message: "mempertontonkan perbuatan bodoh
secara
terbuka.
Mosok saingan di-eliminasi pake dinangisin, di-
peluk2, dicium (curu-curi kesempatan ya?),
bukannya harusnya senang/bangga bisa
ngalahin
pesaing yang lain? C'mon, this is a tough world,
man!"
--Endy--
AFI Suck,itu mah buka ajang utuk nyari karakter
suara original penyanyi tapi hanya untuk
sekedar
nyari popularitas belaka....Anjing kapitalis tu
event cuma buat komersil doank...
-AJO-
Diah-->bawa tas geredekan kaya tukang DVD
Tiara:
Gue benci AFI karena gue cinta KDI!!!!
~ BuLan ~
HuahuHua..ancur emang lo tir..!??!!
ato beneren lagi lo suka KDI..Busyeett..ngaco
bratt..Gue benci AFI karna terlalu diforsir
orangnya stlh keluar..jadi ga mentingin Quality
lg..in the end pasti hilang..sian dey
Danang
gue benci karena KOPER
arga
Gwe benci AFI 1 (cowo2nya kaya bencong
taman
lawang dan suaranya pengen nutup kuping kalo
denger)dan AFI 3 (udah basi)...kalo AFI 2 gwe
seneng soalnya ada nia huhuhhuh
laura:
ga suka!!!!!
Mendingan nonton Indonesian idol yang jelas2
lebih berkualitas!!!!Joy menang!!!
Septo:
Hmm afi 2 lumayan...ada cindy ehhehehe...
tapi mendingan nonton indonesian model..ada
gita.ekkekeke...
ReRe:
SALAM AKADEMIA, gak mungkin gue gak suka
AFI...
gila ya ... Adi Nugroho kan lucu, jadi gue gak
perduli sama akademianya... hidup ADI
NUGROHO
myra :
afi? apakah tv2 di dunia ini sudah tidak punya
acara yg lbh berkualitas lagi?? animal planet
itu
lebih bagus..hewan2nya lebih lucu2 drpd
penyanyi2
di afi
*Aish* :
Wakksss,afi?? Silly idea, over reacting, nggak
bermutu,too much exposed yg gak perlu,abg
banget,terlalu komersil yg dibuat-buat,terlalu
banyak jual mimpi..Ampe anak kecil mau aja
bunuh
diri pake baygon gara2 afi!!!!Bah,pokoknya
ancur
lah bangsa 'ni gara2 afi...
*ardhi* :
AFI yah...hm...
aa gym pernah bilang...
ketenaran yang didapat sesaat maka akan
hilang
dengan cepat pula...
klo gw seh terserah aja smua tipi bikin
acara...yg jelas gw akan nonton yg bermutu
tinggi...kayak IDOL gitu deh...
HenrY :
AFI..namanya juga Akademi FANTASI
Indosiar.Yg
dijual juga cuman fantasi ato mimpi-mimpi doank
ky
sinetron indonesia..kualitas suara-nya yg bagus
cuman 1 ato 2 orang aja..yg lainnya spt kt juri
Indonesian Idol STD(standard)...
gw lebih suka Indonesian Idol.. hidup Joy...!!!
JOY TO THE WORLD IDOL.....
---rdp---
AFI tuh ga bagus, mendingan gue nonton IDOL
aja.... hayo siapa yg dukung HELENA
==============end==================
Cerita lain di balik AFI
PART 1
AFI Versus IPA
Oleh : Ade Armando (Dosen UI dan Pengamat Media)
Pernah dengar nama Yudistira Virgus? Atau, Edbert Jarvis Sie? Atau,
Ardiansyah? Andika Putra? Atau, Ali Sucipto?
Kalau Anda menganggap nama-nama itu terasa asing di telinga, jangan
berkecil hati. Maklumlah, mereka memang tidak cukup diekspos media massa.
Jangankan tampang, nama mereka saja tidak hadir di halaman satu surat
kabar, di halaman depan tabloid dan majalah, apalagi di prime time siaran
televisi dan radio kita.
Dibandingkan Veri, Kia, dan Mawar (tiga finalis AFI), misalnya, pemberitaan
soal Yudistira dan kawan-kawan bisa dibilang 'cuma seujung kuku'.
Padahal, prestasi mereka sangat membanggakan. Mereka berlima semua siswa
SMA membawa Indonesia menempati peringkat lima besar dalam Olimpiade Fisika
Internasional di Pohang, Korea Selatan, yang baru berakhir Kamis lalu.
Dalam ajang prestisius yang diikuti 73 negara ini, Indonesia hanya berada
di bawah Belarusia, Cina, Iran, dan Kanada. Negara-negara besar seperti AS,
Jepang, atau Jerman dilibas. Yudistira merebut medali emas untuk kategori
total ujian teori dan praktik (eksperimen), sementara keempat teman lainnya
merebut medali perak dan perunggu.
Tapi, begitulah Indonesia.
Pencapaian dalam kemampuan menguasai atau mengembangkan ilmu pengetahuan
tidak memperoleh perhatian besar. Remaja Indonesia, sejak kecil, diajarkan
untuk justru mengagumi hal-hal tidak mendasar.
Lihat saja bagaimana saat ini ribuan remaja Indonesia berduyun-duyun
mengikuti berbagai ajang kompetisi adu tarik suara atau bahkan adu
kecantikan. Impian 'menjadi bintang' terus dipompakan ke benak bangsa ini.
Program seperti AFI dan semacamnya tidaklah buruk. Tapi, skalanya sudah
menjadi begitu besar dan sama sekali tidak proporsional sehingga bisa
menyesatkan rentang pilihan yang terbayang di benak bangsa ini.
Indonesia adalah negara miskin dan terbelakang. Salah satu syarat utama
untuk mengatasi ketertinggalan ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Karena itu, negara ini membutuhkan penghibur (entertainer) dalam
jumlah 'secukupnya' saja.
Kita tentu perlu mensyukuri lahir dan tumbuhnya sebuah generasi muda yang
cantik, gagah, pintar menari dan bernyanyi, atau berakting; namun kita
memerlukan lebih banyak lagi orang pintar.
Kepintaran rupanya memang tak dianggap punya daya tarik tinggi. Akibatnya,
media massa tidak memberi tempat cukup bagi prestasi yang terkait dengan
'keunggulan otak'.
Tanpa disengaja, media tidak mengondisikan masyarakat untuk menghargai
'kepintaran'.
Bahkan, di siaran televisi, lazim kita melihat bagaimana kaum ilmuwan
ditampilkan secara karikatural: sebagai profesor pikun beruban dan
berkacamata tebal yang tidak punya kehidupan sosial. Pasokan sumber daya
manusia unggul di negara ini dipinggirkan.
Tentu saja bukan cuma media massa yang berkonstribusi. Kita misalnya juga
tidak melihat upaya serius pemerintah untuk memelihara dan mengembangkan
kualitas brainware ini.
Yudistira dan kawan-kawan pun bisa saja akhirnya tidak akan dapat
dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka keburu digaet pihak
asing.
Yudistira misalnya dikabarkan sudah memperoleh beasiswa dari sebuah
universitas teknologi di AS. Dikabarkan pula dua anggota tim Olimpiade
Fisika sudah diterima Nanyang University of Singapura (NUS).
Maklumlah, perguruan tinggi asing ini aktif mendekati para calon ilmuwan
terbaik yang mereka dapati di ajang internasional, sembari mengiming-imingi
beasiswa, jaminan hidup, dan bahkan jaminan kerja Sementara Indonesia,
hanya mengamati mereka dari jauh.
Tidak pernah dengar nama Yudistira Virgus? Tidak apa-apa, kok. Ia cuma
pemenang medali emas di Olimpiade Internasional!
PART 2
Diterima di ITB Malah Kebingungan
PEMENANG konser Akademi Fantasi Indosiar (AFI) boleh tersenyum lega,
sebab setelah konser usai, mereka segera mendapat tawaran rekaman
atau nyanyi dan dapat uang dari berbagai sumber. Tidak demikian
halnya dengan pemenang Olimpiade Biologi Internasional.
Usai mendapat 'penghargaan' dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah
(Dikdasmen), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sebesar Rp5
juta per orang, mereka tambah miris dengan masa depan mereka sendiri.
Sebab, bukan tawaran main sinetron, hiburan ataupun tawaran model
iklan dari berbagai produk yang berarti bakal dapat duit.
Sang juara Olimpiade itu harus berpikir keras bagaimana mencari duit
untuk kelangsungan sekolah mereka. Seperti yang dialami Mulyono,
pemenang medali perunggu Olimpiade biologi dari SMAN di daerah Pare,
Kediri, Jawa Timur (Jatim).
Mulyono mengaku dirinya telah diterima masuk di Institut Teknologi
Bandung (ITB) jurusan mikrobiologi melalui ujian saringan masuk yang
diterapkan oleh ITB sebelum SPMB berjalan. Untuk meringankan siswa
yang orang tuanya petani itu, Mulyono mendapat dispensasi tidak harus
membayar uang masuk yang besarnya sekitar Rp45 juta, tetapi untuk
biaya kuliah serta biaya hidup selama di Bandung masih tetap menjadi
pikirannya.
"Ya, itulah yang mengganggu pikiran saya, dari mana saya harus
mendapatkan uang," katanya lirih. Peraih medali perak dalam lomba
sains nasional yang diselenggarakan di Balikpapan belum lama ini,
sedang berusaha mencari sponsor agar dirinya bisa memperoleh dana
bagi kelangsungan sekolahnya kelak.
Mulyono sempat bingung menghadapi uang kuliah yang besarnya Rp1,7
juta per semester, belum lagi biaya hidup di Bandung yang berdasarkan
pemantauannya lebih dari Rp400.000 sebulan. "Tanpa adanya beasiswa
atau sponsor, mustahil saya bisa kuliah di sana," kata Mulyono.
Kondisi serupa juga dialami Ni Komang Darmiani yang bersama-sama
dengan Mulyono pergi ke Brisbane, Australia untuk membawa nama bangsa
dalam Olimpiade Biologi tersebut, masih bingung terhadap masa
depannya. Darmi mengaku telah diterima di Fakultas Kedokteran,
Universitas Udayana melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK).
Namun, sebelum berangkat ke Brisbane untuk membuktikan bahwa bangsa
Indonesia bukanlah bangsa terbelakang dengan cara ikut olimpiade
sains, Darmi sempat bingung karena ia diwajibkan membayar uang
pangkal dari Universitas Udayana sebesar Rp11 juta.
Ketika pulang dari Australia dan Dirjen Dikdasmen memberikan
uang 'penghargaan' sebesar Rp5 juta dirinya sempat bergumam, "Wah,
masih kurang Rp6 juta lagi."
Terbayang di hadapannya, orang tuanya yang guru SMA, harus berusaha
keras menyediakan kekurangan biaya tersebut, belum lagi biaya
semester yang harus dibayarnya serta biaya hidup di Denpasar kelak
bila ia belajar di Universitas Udayana.
Letak Denpasar sangat jauh dari kediaman orang tuanya di Desa Bila,
Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Singaraja. Artinya, selama menuntut
ilmu mau tidak mau ia harus indekos karena tidak ada famili di sana.
Anugerah AFI yang hanya diselenggarakan di Indonesia begitu besar,
tetapi mengapa anugerah Peraih Medali Perunggu olimpiade sains Cuma
sebesar itu. Kapan masyarakat bumi tercinta ini mulai menghargai anak
bangsanya yang telah membawa harum di dunia internasional. Jadi,
kapan bangsa ini mulai menghargai orang cerdas dan pintar? (Hru/B-1)
Sumber: Media Indonesia - Kamis, 22 Juli 2004
2 bait tulisan
sisi lain
lihat geliatnya di sana
apa yang hinggap
dan apa yang terserap
tidak tercerna dengan baik
tidak terolah matang matang
kini sudah dalam
sudah terkontaminasi
teracuni dan terkarbonasi
sakaw akan omong kosong belaka
tiada titik cerah
gak ada mata hati
semuanya salah dan rusak
coba sejenak kosongkan pikiran
lihatlah setiap tindak tanduk
ambil sisi lain dari hidup
teropong masuk kedalamnya
semua pasti terlihat jelas
koreksi dan angkat jiwamu dari sana
setelah terbang melayang dan jatuh
bangkitlah
mulai dari akar lagi
lurus tidak berkelok
masa depan masih cerah dan panjang
masih jadi impian di hati
raihlah dengan bersih
2004/07/20
HAHAHA...
mati ajalah yang ngelarang ngelarang ketawa !
senyum dan tawa
kebisuan majemuk hantui setiap sisi gurauan
semakin basi jemu dan hening tak keruan
sedikit simpul di pelipis bibir koyakkan kebosanan
sudah saatnya lepaskan kekangan erat bebanmu
tidak ada salahnya tertawa
ataupun sedikit tersenyum
cairkan kebekuan suasana ruang
hanya dengan itu rasa salah dan marah terkikis
tak ada arti berdiam diri dan termenung sendiri
mari datang dan ikut bersenda dalam gurau
dan nikmati hidup dalam ceria dan sukacita
dan biarkan hidupmu lebih hidup sendirinya
itu akan terasa indah selalu
tersenyumlah tertawalah
penuhi harimu dengan senyum
senyum dan tawa
kebisuan majemuk hantui setiap sisi gurauan
semakin basi jemu dan hening tak keruan
sedikit simpul di pelipis bibir koyakkan kebosanan
sudah saatnya lepaskan kekangan erat bebanmu
tidak ada salahnya tertawa
ataupun sedikit tersenyum
cairkan kebekuan suasana ruang
hanya dengan itu rasa salah dan marah terkikis
tak ada arti berdiam diri dan termenung sendiri
mari datang dan ikut bersenda dalam gurau
dan nikmati hidup dalam ceria dan sukacita
dan biarkan hidupmu lebih hidup sendirinya
itu akan terasa indah selalu
tersenyumlah tertawalah
penuhi harimu dengan senyum
2004/07/19
tribute to my parent
kenapa tuhan menciptakan orang tua ? hanya supaya aku ada ? ato supaya namaNya tetap hadir ? Apapun itu aku tetap mencintai orang tua dan Tuhanku..
papa mama dan aku
dari berjuta benih hanya satu yang tinggal
satu tambah satu jadi satu di rahimnya
dan diam disana untuk 9 purnama lebih
lewat dari situ terlahirlah sosokku
kau rangkul aku dan meninabobokkanku
kasih dan sayang kalian besar di hidupku
kala mataku berlinang kau hadir
kala hatiku sepi kalian penuhi dengan canda
hariku indah bersamamu
kalian marah suatu saat
aku pun dendam padamu
tapi apalah artinya dibanding dengan kasihmu
kukagumi kau papa
kukagumi kau mama
kucinta kalian selamanya
hidup ini berarti karenamu
tuntunan tanganmu hantarku
sampai disini menjadi seperti ini
seperti yang kuingini
papa mama inilah aku
anakmu buah hatimu
dulu yang kecil nakal dan sering melawan
ingatkah masa indah di waktu dulu
kalian selalu sinari hatiku
binari setiap langkahku
tak cukup kata untuk luapkan terimakasihku
tak cukup bait dan halaman untuk cintaku
tak akan pernah cukup
you're gorgeous parents to me
papa mama dan aku
dari berjuta benih hanya satu yang tinggal
satu tambah satu jadi satu di rahimnya
dan diam disana untuk 9 purnama lebih
lewat dari situ terlahirlah sosokku
kau rangkul aku dan meninabobokkanku
kasih dan sayang kalian besar di hidupku
kala mataku berlinang kau hadir
kala hatiku sepi kalian penuhi dengan canda
hariku indah bersamamu
kalian marah suatu saat
aku pun dendam padamu
tapi apalah artinya dibanding dengan kasihmu
kukagumi kau papa
kukagumi kau mama
kucinta kalian selamanya
hidup ini berarti karenamu
tuntunan tanganmu hantarku
sampai disini menjadi seperti ini
seperti yang kuingini
papa mama inilah aku
anakmu buah hatimu
dulu yang kecil nakal dan sering melawan
ingatkah masa indah di waktu dulu
kalian selalu sinari hatiku
binari setiap langkahku
tak cukup kata untuk luapkan terimakasihku
tak cukup bait dan halaman untuk cintaku
tak akan pernah cukup
you're gorgeous parents to me
2004/07/11
kalah
Wah sendal jepit sudah rilis albumnya bahkan di mtv sudah ada klipnya yang judulnya kalah, disitu lagunya Metal eh di albumnya melodics still exist, tulisan ini hadir karena kalah.
saat kekalahan pun tiba
mati kaku diantara batu
gelap dan selalu beku
yang keluar hanya kata bisu
namun tetap hangat kuku
nuansa biru hanyutkan perahu
ombak pecahkan sunyi tidurnya serdadu
hantaman dan dentuman peluru
buat sang panglima kaku
mati dan kalah perang panglimaku
pulanglah dengan gelarmu
tiada guna untuk bersatu
apalagi untuk saling membahu
terima saja itu belenggu
saat kekalahan pun tiba
mati kaku diantara batu
gelap dan selalu beku
yang keluar hanya kata bisu
namun tetap hangat kuku
nuansa biru hanyutkan perahu
ombak pecahkan sunyi tidurnya serdadu
hantaman dan dentuman peluru
buat sang panglima kaku
mati dan kalah perang panglimaku
pulanglah dengan gelarmu
tiada guna untuk bersatu
apalagi untuk saling membahu
terima saja itu belenggu
2004/07/10
english written
men minggu ini adalah minggu pertama dan banyak banget kerjaan dan bla bla dateng ke meja en otak yang mau engga mau harus dikerjain sampe beres dan harus on time ! shit !
face it
problems come in and out
keep your head up
face it all
with a brave heart
dont act like a coward
stop hiding
and stop complaining
chills
let's face it
bahasa inggris lah biar gaya gitulah.
face it
problems come in and out
keep your head up
face it all
with a brave heart
dont act like a coward
stop hiding
and stop complaining
chills
let's face it
bahasa inggris lah biar gaya gitulah.
Langganan:
Postingan (Atom)