Aduh, pengen ngetik ngetik di keyboard tapi ngga tau apa yang harus diketik. Tapi liat nih gue ngetik tanpa pikir panjang lagi, apa yang terjadi ? Mari kita perhatikan
orang mati yang hidup
hanya tinggal satu peran yang harus ikut
karakternya sangat aneh dan tidak menarik
sampai semua acuh dan sinis padanya
pikir mereka itu hanya orang gila yang hidup
sampah yang tidak bisa didaurulang
layak dicampakan atau dimusnahkan
tersisihkan sampai dianggap mati
coba masuk ke dalamnya untuk diam
sebentar akan terasa sakit
tidak lama mungkin air mata mengalir
rasakan lebih lama lagi
sampai kapan kau mampu bertahan teman
itulah perasaannya selama ini
pedih pilu dan menyayat hati
sendiri sepi tanpa kawan
dia mampu bertahan mengapa kamu tidak
apa lebih indah tidak menjadi dirinya
sudahlah kau boleh keluar dari sana
biarkan dia menderita lebih lama lagi
biarkan semua orang tetap memandangnya rendah
dan biarkan dia mati dengan sendirinya
lupakan saja dia toh dia sudah kita anggap mati
sebuah ancaman penuh teror terhadap sisi kelam kehidupan yang terus menerus meluas.
2005/03/18
2005/03/17
BBM Naik + Ambalat Issue
Gue mo nulis uneg2 nih.
Pertama buat naiknya harga BBM :
Keputusan Pemerintah menaikan BBM jadi tanda tanya besar, di tengah-tengah pemerintahannya, SBY menaikan harga BBM yang pasti akan memberikan dampak kepada harga-harga sembako dan kebutuhan lainnya. Dan rencananya dana yang didapat akan disubsidikan ke masalah pendidikan, kesehatan dan pembangunan. Pertanyaan muncul banyak banget, demonstrasi dari rakyat dan mahasiswa juga banyak, tapi SBY masih tetap bersikeras pada keputusannya. Pertanyaan gue cuma 1 sih : "Ada gak cara lain mendapatkan subsidi itu selain dari menaikan harga BBM ?". Jika pemerintah pintar, berani dan kreatif mungkin pertanyaan ini akan terjawab dengan mudah yah. Usul dan saran dari teman-teman mahasiswa diwaktu demo juga banyak tapi kenapa pemerintah tidak mau mendengarkan, politisi dan fraksi di DPR yang menolak kenaikaan BBM pun memberikan cara-cara yang masuk akal, tapi kenapa sekali lagi pemerintah masih tidak mau mengalah ? Ini semua kembali kepada pribadinya yang egois, otoriter dan mencari jalan pintas untuk kesejahteraan rakyat menurutnya. Tapi apa dengan cara tersebut rakyat menjadi sejahtera ? Well pertanyaan ini pasti sudah terjawab. Ya sebagai rakyat kami minta pemerintah untuk lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dan merakyat, karena dengan merakyat semua beban rakyat dia bisa rasakan dan akan berpikir menjadi pintar dalam membuat keputusan. Tapi aku tetap berdoa untuk pemerintahan agar berhasil dalam agendanya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.
Yang kedua gue mo ngomong kasus Ambalat.
Sebenarnya gue kurang mengerti mengenai geografis Indonesia karena tidak jelas batasan-batasannya apalagi negara kita yang tercinta ini terdiri dari ribuan pulau yang membentang dari sabang - merauke (apa masih seperti ini ?). Belum lagi batas pantai atau laut antara indonesia dengan negara tetangga tidak jelas kalau dengan mata telanjang. Mungkin karena pemerintah kita yang sangat ajaib itu kurang peduli akan batas batas tersebut dan pemerintah malaysia yang rakus akan wilayah sehingga dengan santainya menyatakan Ambalat adalah bagian dari malaysia.
2 pulau sudah diambil alih malaysia dari kedaulatan RI waktu pemerintahan yang lalu, dan sekarang giliran Ambalat yang diperebutkan. Rakyat Indonesia mendengar itu tidak tinggal diam, mereka sudah mulai mempersiapkan argument dan juga diri mereka untuk mobilisasi umum, pemerintah juga memperketat pengamanan dan pertahanan di daerah perbatasan tersebut dan melalui perundingan yang penuh dengan adu bacot antara RI dan Malaysia pun digelar. Aksi di daerah-daerah Indonesia bahkan sudah sangat nasionalis, mereka bersedia untuk menjadi relawan perang, sebagian orang cerdas di dunia cyber melancarkan serangan / deface terhadap situs-situs pemerintahan negara Serambi Mekaah itu dan malay people juga ga diam saja diserang seperti itu, mereka pun mulai membalas dengan mendeface bebarapa situs Indonesia walaupun jumlahnya tidak sebanyak situs malaysia yang terdeface. Menarik memang tapi apakah ini jalan keluar ?
Seharusnya kita lebih dewasa dalam menghadapi hal hal semacam ini, jangan sampai perang terjadilah, kita ini sudah bertetangga dan bekerjasama lama dengan negara tersebut. Sudah ada Hukum Dunia tapi kenapa Indonesia malah dengan bangganya mendatangi Malaysia membicarakan hal ini ? Kekeluargaan disini sudah tidak akan dihargai karena jika Malaysia mau bekeluarga dengan kita seharusnya mereka tidak perlu merebut wilayah yang bukan haknya. Jika kita memiliki bukti dan data yang bisa dijadikan pegangan untuk mengangkat kasus ini ke mahkamah international mungkin masalah ini akan cepat diselesaikan dan mungkin kita dapat menuntut Malaysia atas pernyataan ini (untuk masalah tuntut menuntut baru bisa dilakukan secara kekeluargaan setelah kasus ini ditemukan titik cerahnya). Mungkin dengan cara yang saat ini pemerintah RI lakukan peperangan akan terjadi karena salah satunya Lama penyelesaiannya dan yang kedua rakyat 2 negara sudah mulai panas akan permasalahan ini.
Well sekali lagi aku cuma masyarakat biasa yang hanya bisa menulis dan menyatakan pendapat. Demokrasi boleh dijunjung tinggi tapi penghormatan terhadap pendapat itu belum ada. Ini semua terserah kepada orang yang kami pilih di pemilihan umum tahun lalu. Seharusnya sekarang kami tidak perlu berbicara lagi toh sudah ada wakil kami disana yang seharusnya mewakili aspirasi kami tapi bagaimana yah ? Aku pusing dan bingung sekarang sama pemerintahan ini.
Sudahlah, let's see kalau perlu REREREREREFORMASi saya dukung. Formasi baik pasti akan kita dapatkan. Maju Terus Indonesiaku dan Cahaya Terang Milikmu.
terima kasih
rakyat
Pertama buat naiknya harga BBM :
Keputusan Pemerintah menaikan BBM jadi tanda tanya besar, di tengah-tengah pemerintahannya, SBY menaikan harga BBM yang pasti akan memberikan dampak kepada harga-harga sembako dan kebutuhan lainnya. Dan rencananya dana yang didapat akan disubsidikan ke masalah pendidikan, kesehatan dan pembangunan. Pertanyaan muncul banyak banget, demonstrasi dari rakyat dan mahasiswa juga banyak, tapi SBY masih tetap bersikeras pada keputusannya. Pertanyaan gue cuma 1 sih : "Ada gak cara lain mendapatkan subsidi itu selain dari menaikan harga BBM ?". Jika pemerintah pintar, berani dan kreatif mungkin pertanyaan ini akan terjawab dengan mudah yah. Usul dan saran dari teman-teman mahasiswa diwaktu demo juga banyak tapi kenapa pemerintah tidak mau mendengarkan, politisi dan fraksi di DPR yang menolak kenaikaan BBM pun memberikan cara-cara yang masuk akal, tapi kenapa sekali lagi pemerintah masih tidak mau mengalah ? Ini semua kembali kepada pribadinya yang egois, otoriter dan mencari jalan pintas untuk kesejahteraan rakyat menurutnya. Tapi apa dengan cara tersebut rakyat menjadi sejahtera ? Well pertanyaan ini pasti sudah terjawab. Ya sebagai rakyat kami minta pemerintah untuk lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dan merakyat, karena dengan merakyat semua beban rakyat dia bisa rasakan dan akan berpikir menjadi pintar dalam membuat keputusan. Tapi aku tetap berdoa untuk pemerintahan agar berhasil dalam agendanya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.
Yang kedua gue mo ngomong kasus Ambalat.
Sebenarnya gue kurang mengerti mengenai geografis Indonesia karena tidak jelas batasan-batasannya apalagi negara kita yang tercinta ini terdiri dari ribuan pulau yang membentang dari sabang - merauke (apa masih seperti ini ?). Belum lagi batas pantai atau laut antara indonesia dengan negara tetangga tidak jelas kalau dengan mata telanjang. Mungkin karena pemerintah kita yang sangat ajaib itu kurang peduli akan batas batas tersebut dan pemerintah malaysia yang rakus akan wilayah sehingga dengan santainya menyatakan Ambalat adalah bagian dari malaysia.
2 pulau sudah diambil alih malaysia dari kedaulatan RI waktu pemerintahan yang lalu, dan sekarang giliran Ambalat yang diperebutkan. Rakyat Indonesia mendengar itu tidak tinggal diam, mereka sudah mulai mempersiapkan argument dan juga diri mereka untuk mobilisasi umum, pemerintah juga memperketat pengamanan dan pertahanan di daerah perbatasan tersebut dan melalui perundingan yang penuh dengan adu bacot antara RI dan Malaysia pun digelar. Aksi di daerah-daerah Indonesia bahkan sudah sangat nasionalis, mereka bersedia untuk menjadi relawan perang, sebagian orang cerdas di dunia cyber melancarkan serangan / deface terhadap situs-situs pemerintahan negara Serambi Mekaah itu dan malay people juga ga diam saja diserang seperti itu, mereka pun mulai membalas dengan mendeface bebarapa situs Indonesia walaupun jumlahnya tidak sebanyak situs malaysia yang terdeface. Menarik memang tapi apakah ini jalan keluar ?
Seharusnya kita lebih dewasa dalam menghadapi hal hal semacam ini, jangan sampai perang terjadilah, kita ini sudah bertetangga dan bekerjasama lama dengan negara tersebut. Sudah ada Hukum Dunia tapi kenapa Indonesia malah dengan bangganya mendatangi Malaysia membicarakan hal ini ? Kekeluargaan disini sudah tidak akan dihargai karena jika Malaysia mau bekeluarga dengan kita seharusnya mereka tidak perlu merebut wilayah yang bukan haknya. Jika kita memiliki bukti dan data yang bisa dijadikan pegangan untuk mengangkat kasus ini ke mahkamah international mungkin masalah ini akan cepat diselesaikan dan mungkin kita dapat menuntut Malaysia atas pernyataan ini (untuk masalah tuntut menuntut baru bisa dilakukan secara kekeluargaan setelah kasus ini ditemukan titik cerahnya). Mungkin dengan cara yang saat ini pemerintah RI lakukan peperangan akan terjadi karena salah satunya Lama penyelesaiannya dan yang kedua rakyat 2 negara sudah mulai panas akan permasalahan ini.
Well sekali lagi aku cuma masyarakat biasa yang hanya bisa menulis dan menyatakan pendapat. Demokrasi boleh dijunjung tinggi tapi penghormatan terhadap pendapat itu belum ada. Ini semua terserah kepada orang yang kami pilih di pemilihan umum tahun lalu. Seharusnya sekarang kami tidak perlu berbicara lagi toh sudah ada wakil kami disana yang seharusnya mewakili aspirasi kami tapi bagaimana yah ? Aku pusing dan bingung sekarang sama pemerintahan ini.
Sudahlah, let's see kalau perlu REREREREREFORMASi saya dukung. Formasi baik pasti akan kita dapatkan. Maju Terus Indonesiaku dan Cahaya Terang Milikmu.
terima kasih
rakyat
2005/02/24
Kemenangan ?
Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi diantara sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat dapat pergi kesana. Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut. Dengan semangat yang meluap-luap,kedua binatang itu pergi bersama ke desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai berjalan- jalan melihat keindahan desa itu. Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar.
Belalang itu bertanya kepada anjing, "Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan disini?" "Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini" jawab anjing dengan sombongnya.
Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda.Dia lalu berkata lagi "Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita". "Baik", jawab si anjing. "Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut".
Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing.
Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi ora! ng dewasa tersebut tersebut. Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi,namun ternyata gagal pula.
Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata ,"Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang ? Kamu sudah kalah". "Belum", jawab si belalang. "Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua ?" "Apapun tantangan itu, aku siap" tukas si anjing. Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, tapi diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya". Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum. "Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini.
Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga", kata si anjing. "Tidak perlu", jawab si belalang. "Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.
INTINYA ADALAH, KAMU DAN SAYA MEMPUNYAI POTENSI DAN STANDARD YANG BERBEDA
TENTANG KEMENANGAN. ADALAH TIDAK BIJAKSANA MEMBANDINGKAN POTENSI KITA
DENGAN YANG LAIN. KEMENANGAN SEJATI ADALAH KETIKA DENGAN POTENSI YANG
KAMU MILIKI, KAMU BISA MELAMPAUI STANDARD DIRIMU SENDIRI.
Quote : Bener juga tuh semua.. tapi ego setiap manusia gak bisa menerima omong kosong itu !!
aku #1
siapa dan apa lawanku
besar tangguh serta kuat
ku tetap tak ciut atau takut
kan kuterjang dan kujatuhkan
kuhempaskan mereka semua
sampai tersungkur dan tak bangkit
hingga saatku raih mimpi
nomer satu yang terbaik
sebagai bukti diriku terkuat
dan tiada lawan untukku
aku menang
dan aku sang juara
semua pecundang
kecuali diri ini
yang masih berdiri
tegap disini
diatas kalian semua
Belalang itu bertanya kepada anjing, "Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan disini?" "Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini" jawab anjing dengan sombongnya.
Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda.Dia lalu berkata lagi "Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita". "Baik", jawab si anjing. "Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut".
Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing.
Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi ora! ng dewasa tersebut tersebut. Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi,namun ternyata gagal pula.
Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata ,"Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang ? Kamu sudah kalah". "Belum", jawab si belalang. "Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua ?" "Apapun tantangan itu, aku siap" tukas si anjing. Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, tapi diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya". Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum. "Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini.
Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga", kata si anjing. "Tidak perlu", jawab si belalang. "Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.
INTINYA ADALAH, KAMU DAN SAYA MEMPUNYAI POTENSI DAN STANDARD YANG BERBEDA
TENTANG KEMENANGAN. ADALAH TIDAK BIJAKSANA MEMBANDINGKAN POTENSI KITA
DENGAN YANG LAIN. KEMENANGAN SEJATI ADALAH KETIKA DENGAN POTENSI YANG
KAMU MILIKI, KAMU BISA MELAMPAUI STANDARD DIRIMU SENDIRI.
Quote : Bener juga tuh semua.. tapi ego setiap manusia gak bisa menerima omong kosong itu !!
aku #1
siapa dan apa lawanku
besar tangguh serta kuat
ku tetap tak ciut atau takut
kan kuterjang dan kujatuhkan
kuhempaskan mereka semua
sampai tersungkur dan tak bangkit
hingga saatku raih mimpi
nomer satu yang terbaik
sebagai bukti diriku terkuat
dan tiada lawan untukku
aku menang
dan aku sang juara
semua pecundang
kecuali diri ini
yang masih berdiri
tegap disini
diatas kalian semua
2005/02/08
gempa tsunami di aceh
well.. mungkin dah denger kan gempa tsunami di aceh en asia ? ya udah kita ulurkan tangan kita untuk mereka.. gue gak mau banyak bacot..
tragedi 26 desember 2004
isak tangis, air mata dan darah hari ini tumpah
tumpah di pesisir pantai yang sejak dulu pasif
air hantam pesisir pantai dan hancurkan semua
rumah, kendaraan dan manusia pun diterjangnya
berselang 1 putaran jarum menit
semua tampak usang dan tak keruan
1 jam lalu bangunan masih tegak berdiri
1 jam lalu masih ada damai dan sukacita
1 jam lalu tidak begini
1 jam lalu ...
semua rata dan hanya sampah kotoran tak berguna yang ada
kemana semua orang, kemana semua rumah dan kendaraan
manusia yang tertinggal hanya trauma dan histeris penuh sedih
tatapan kosong dan pucat pasi yang hadir di paras mereka
harapan mereka hilang seketika setelah air hilang dari tanah mereka
semua impian mereka kandas setelah harta dan keluarga tiada
hilang dan lenyap ditelan ombak atau tersapu entah kemana
mungkin sudah mati atau sekarat
harapan mereka kecil untuk mendapatkan kembali secercah harapan
tanda tanya dan tanda seru atau tanda lainnya mulai lahir
ada apa ini tanda tanya
ya tuhan tanda seru
bencana alam telah terjadi koma banyak korban tertelan titik
tanda petik tolong tanda seru tanda petik
salah apa mereka dan kenapa mereka sampai tragedi ini terjadi hari ini
apa tuhan sudah murka dan manusia sudah patut binasa mulai sekarang
beri kami waktu untuk bertobat dan berbenah diri menghadapmu
sejak ini uluran tangan dari setiap individu perlu terlibat disini
ini besar dan ini perlu banyak tangan terlibat didalamnya
uluran tanganmu dan ku mungkin bisa meringankan beban mereka
sedikit dari setiap kita tapi dari sedikit kita bisa jadi banyak
semua jadi satu untuk saudara kita
semua untuk mereka
bangkit dan berdiri untuk harapan dan mimpi mereka
yakini semua pasti selesai dan rampung
lepaskan indonesia dari semua derita dan rasa sedih
ulurkan tangan dan berikan
tragedi 26 desember 2004
isak tangis, air mata dan darah hari ini tumpah
tumpah di pesisir pantai yang sejak dulu pasif
air hantam pesisir pantai dan hancurkan semua
rumah, kendaraan dan manusia pun diterjangnya
berselang 1 putaran jarum menit
semua tampak usang dan tak keruan
1 jam lalu bangunan masih tegak berdiri
1 jam lalu masih ada damai dan sukacita
1 jam lalu tidak begini
1 jam lalu ...
semua rata dan hanya sampah kotoran tak berguna yang ada
kemana semua orang, kemana semua rumah dan kendaraan
manusia yang tertinggal hanya trauma dan histeris penuh sedih
tatapan kosong dan pucat pasi yang hadir di paras mereka
harapan mereka hilang seketika setelah air hilang dari tanah mereka
semua impian mereka kandas setelah harta dan keluarga tiada
hilang dan lenyap ditelan ombak atau tersapu entah kemana
mungkin sudah mati atau sekarat
harapan mereka kecil untuk mendapatkan kembali secercah harapan
tanda tanya dan tanda seru atau tanda lainnya mulai lahir
ada apa ini tanda tanya
ya tuhan tanda seru
bencana alam telah terjadi koma banyak korban tertelan titik
tanda petik tolong tanda seru tanda petik
salah apa mereka dan kenapa mereka sampai tragedi ini terjadi hari ini
apa tuhan sudah murka dan manusia sudah patut binasa mulai sekarang
beri kami waktu untuk bertobat dan berbenah diri menghadapmu
sejak ini uluran tangan dari setiap individu perlu terlibat disini
ini besar dan ini perlu banyak tangan terlibat didalamnya
uluran tanganmu dan ku mungkin bisa meringankan beban mereka
sedikit dari setiap kita tapi dari sedikit kita bisa jadi banyak
semua jadi satu untuk saudara kita
semua untuk mereka
bangkit dan berdiri untuk harapan dan mimpi mereka
yakini semua pasti selesai dan rampung
lepaskan indonesia dari semua derita dan rasa sedih
ulurkan tangan dan berikan
2004/11/11
selamat hari lebaran
Welll... mo lebaran neh.. Met hari raya lebaran ya untuk semuanya, maafin kalau ada kata kata atau tulisan tulisan yang salah.
idul fitri ini
gema takbir terngiang di telinga
saudaraku rayakan hari ini
hari yang fitri di 1425 hijriah
setelah menang atas hawa diatas nafsu
kembali ke fitri seperti bayi yang baru lahir
binaran kemenangan terpancar dari sana
dari mata dan mata hati setiap mereka
berjuta kata maaf tertulis seragam
kaligrafi indah tertera disekitarnya
beribu maaf terucap jelas
dalam manis dan damainya silaturahmi
andai hari ini sama dengan esok
dan terulang di lusa dan esoknya lagi
mohon maaf lahir dan bathin
hari ini akan indah jika sama dengan esok
idul fitri ini
gema takbir terngiang di telinga
saudaraku rayakan hari ini
hari yang fitri di 1425 hijriah
setelah menang atas hawa diatas nafsu
kembali ke fitri seperti bayi yang baru lahir
binaran kemenangan terpancar dari sana
dari mata dan mata hati setiap mereka
berjuta kata maaf tertulis seragam
kaligrafi indah tertera disekitarnya
beribu maaf terucap jelas
dalam manis dan damainya silaturahmi
andai hari ini sama dengan esok
dan terulang di lusa dan esoknya lagi
mohon maaf lahir dan bathin
hari ini akan indah jika sama dengan esok
2004/11/02
setan goblok
eh di dunia tu ga ada orang sucilah.. ada juga yang sok suci, setuju ga ? kalo ga setuju berarti lo sok suci man ! Emang suci itu apa sih ? apa cuma baek dan ga punya dosa ? terus kalo baek ukurannya gimana ? kalo orang ga punya dosa gimana ngeliatnya ? GAK BISA Man.. kalo ada yang bisa bullshitlah.
Udah ah gue juga berdosa.. maap yeeee...
keabadian iblis
tinggalkan bayang di kesenyapan
ringkih keluh sesal semua jadi satu
semua pedih dan luka pun ikut disana
air mata yang terlinang pun mendanau
disini sesak oleh rasa dendam dan amarah
di tempat ini iblis dilahirkan
kapan rasa ini cair
dan siapa yang bisa membunuh iblis itu
lelah sudah menanti waktu itu datang
semuanya hanya bisa membisu dan menuli
biarlah iblis meraja disini
sampai saat itu datang
dan musnahlah kau iblis
dan redalah dendam dan amarah
tapi kapan waktu itu datang
Udah ah gue juga berdosa.. maap yeeee...
keabadian iblis
tinggalkan bayang di kesenyapan
ringkih keluh sesal semua jadi satu
semua pedih dan luka pun ikut disana
air mata yang terlinang pun mendanau
disini sesak oleh rasa dendam dan amarah
di tempat ini iblis dilahirkan
kapan rasa ini cair
dan siapa yang bisa membunuh iblis itu
lelah sudah menanti waktu itu datang
semuanya hanya bisa membisu dan menuli
biarlah iblis meraja disini
sampai saat itu datang
dan musnahlah kau iblis
dan redalah dendam dan amarah
tapi kapan waktu itu datang
2004/11/01
?
ada kalanya jiwa terasa kosong dan rasanya ada yang kurang, tapi kita tu engga tau apa yang kurang dan apa yang hilang. Kalo ga tau terus kita mau nyari kemana nyari supaya jiwa kita tu jadi utuh lagi ? bingung kan, iya gue juga bingung soalnya sering banget ngerasa kurang !
ada yang kurang disini
hari ini gelap tak bersinar
sperti malam yang dihantui gerhana bulan
dimana jiwa yang ria dan hati yang senang
terakhir kali kulihat kalian masih gembira
apa kalian sudah punah
atau kalian bersembunyi
ah baiknya kutunggu saja
mungkin kalian akan merasa rindu
atau ....
mungkinkah kalian sudah menjadi angkuh
kenapa ini harus ada
dan masih banyak pertanyaan lain
pertanyaan yang besar dan tak terjawab
tolong kembalilah apapun kau sekarang
terangi dan ramaikan suasana hari ini
ada yang kurang disini
hari ini gelap tak bersinar
sperti malam yang dihantui gerhana bulan
dimana jiwa yang ria dan hati yang senang
terakhir kali kulihat kalian masih gembira
apa kalian sudah punah
atau kalian bersembunyi
ah baiknya kutunggu saja
mungkin kalian akan merasa rindu
atau ....
mungkinkah kalian sudah menjadi angkuh
kenapa ini harus ada
dan masih banyak pertanyaan lain
pertanyaan yang besar dan tak terjawab
tolong kembalilah apapun kau sekarang
terangi dan ramaikan suasana hari ini
2004/08/24
warna itu membunuh
kamuflase alam
deru debu semilir mengisak rerumputan
sampai cokelat dibuatnya
aneh
rumput koq cokelat ya ?
apa sudah kering atau terselimuti pasir
lirik ke jauh disana pun hadir
semakin parah
pohon tak berdaun ?
apa sedang gugur atau memang mati
sekarang lihat ke atas
tambah bingung
langit sekarang berwarna kelabu ?
apa sedang mendung atau kiamat sudah dekat
sudah nampaknya lebih baik buta
daripada harus tetap melihat
dan semakin banyak pertanyaan
namun tak satupun terjawab
padahal hanya tentang warna
tapi membunuh dan menyesak di dada
deru debu semilir mengisak rerumputan
sampai cokelat dibuatnya
aneh
rumput koq cokelat ya ?
apa sudah kering atau terselimuti pasir
lirik ke jauh disana pun hadir
semakin parah
pohon tak berdaun ?
apa sedang gugur atau memang mati
sekarang lihat ke atas
tambah bingung
langit sekarang berwarna kelabu ?
apa sedang mendung atau kiamat sudah dekat
sudah nampaknya lebih baik buta
daripada harus tetap melihat
dan semakin banyak pertanyaan
namun tak satupun terjawab
padahal hanya tentang warna
tapi membunuh dan menyesak di dada
2004/08/17
59
merdeka ?
59 tahun sejak prokmalasi dibacakan oleh bapaknya mega
sejak saat itu setiap kelok dan jalan berlubang sering hadir
tapi selama itu juga jalan yang dilewati tetap sama
tiada yang berubah menjadi lurus dan rata
apa jalan itu hanya mimpi belaka
setiap kita yang hidup di tanah ini punya tanggung jawab
tanggung jawab sebagai perata dan pelurus
bersatu jangan hanya pada bulan ke 8 hari ke 17 saja
raih jalan itu
tempuh semuanya
dan gapailah mimpi indonesia
dirgahayu republik indonesia ke 59
59 tahun sejak prokmalasi dibacakan oleh bapaknya mega
sejak saat itu setiap kelok dan jalan berlubang sering hadir
tapi selama itu juga jalan yang dilewati tetap sama
tiada yang berubah menjadi lurus dan rata
apa jalan itu hanya mimpi belaka
setiap kita yang hidup di tanah ini punya tanggung jawab
tanggung jawab sebagai perata dan pelurus
bersatu jangan hanya pada bulan ke 8 hari ke 17 saja
raih jalan itu
tempuh semuanya
dan gapailah mimpi indonesia
dirgahayu republik indonesia ke 59
2004/08/11
sedikit cerita
Aku menangis untuk adikku 6 kali
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang
sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku
membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai
seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya
membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci
ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan
sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?"
Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk
berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun
mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai Beliau
kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas
ranjang batu bata kami dan memarahi,
"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang,
hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di
masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai
mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam
pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia
tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai
menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku
dengan tangan kecilnya dan berkata,
"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya
sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak
memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak
pernah akan lupa tampang adikku ketika ia
melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun.
Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di
SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat
kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap
rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut,
"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan
menghela nafas,
"Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan
ayah dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,
telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku
pada wajahnya.
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat
lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis
di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua
sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di
dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan
tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku
yang membengkak, dan berkata,
"Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini."
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh
datang, adikku meninggalkan rumah dengan
beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang
yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping
ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas
bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya
akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat
tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran
sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17
tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun,
dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut
semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku
akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
teman sekamarku masuk dan memberitahukan,
"Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar
sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh,
seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan
pasir. Aku menanyakannya,
"Mengapa kamu tidak bilang pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum,
"Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan
mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu?
Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi
mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku
semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,
"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu
adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku,
dan terus menjelaskan,
"Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi
saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan
menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20.
Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih
di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari
seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak
waktu untuk membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum,
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat
luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang
kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa
menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada
lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja
di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada
kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak
menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan
tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir
deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota.
Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang
tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi
mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan,
sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu
harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,
mengatakan,
"Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu
dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya.
Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan
sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja
reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat
sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,
"Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan
sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu
sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia
membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi
manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan
dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian
keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:
"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia
berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi
seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu
bertanya kepadanya,
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
"Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada
dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya
berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan
pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu
dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu
dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan
berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah,
tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang
sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama
saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima
kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini,
di depan kerumunan perayaan ini, air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six
times"
well ceritanya engga terlalu menyentuh tapi sumpahnya itu edan banget, masa masih kecil udah buat sumpah udah gitu ditepatin, rock n roll, gue punya tulisan abis baca cerita itu, gak nyambung sih tapi lumayanlah untuk dibloggin.
untuk apa kuatir
surya kembali menampakkan keangkuhannnya di timur sana
berat rasanya menapak pagi ke siang lalu malam
hari ini apa yang akan kudapatkan
dan apa yang akan hilang dariku
atau hari ini sama dengan nol
tidak ada yang hilang dan tidak ada yang kudapat
apa hari ini tuhan masih mengatur jalan hidupku
lalu kuambil waktu kurang dari satu menit
dan akhirnya kudapatkan
hatiku masih teguh berpegang akan rancangan hidupku
rancangan tuhan masih terstruktur rapih di jalanku
hilang semua cemas dan ragu
apa arti masa lalu yang suram
gerutuanku tadi itu seharusnya tidak pernah hadir
sekarang saatnya bangun dan bangkit
selagi jantung berdetak darah mengalir
berlarilah gapai semua mimpi dan citaku
bumi akan tetap indah dengan suryanya
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang
sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku
membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai
seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya
membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci
ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan
sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?"
Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk
berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun
mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai Beliau
kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas
ranjang batu bata kami dan memarahi,
"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang,
hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di
masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai
mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam
pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia
tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai
menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku
dengan tangan kecilnya dan berkata,
"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya
sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak
memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak
pernah akan lupa tampang adikku ketika ia
melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun.
Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di
SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat
kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap
rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut,
"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan
menghela nafas,
"Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan
ayah dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,
telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku
pada wajahnya.
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat
lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis
di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua
sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di
dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan
tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku
yang membengkak, dan berkata,
"Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini."
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh
datang, adikku meninggalkan rumah dengan
beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang
yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping
ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas
bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya
akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat
tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran
sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17
tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun,
dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut
semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku
akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
teman sekamarku masuk dan memberitahukan,
"Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar
sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh,
seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan
pasir. Aku menanyakannya,
"Mengapa kamu tidak bilang pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum,
"Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan
mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu?
Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi
mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku
semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,
"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu
adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku,
dan terus menjelaskan,
"Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi
saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan
menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20.
Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih
di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari
seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak
waktu untuk membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum,
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat
luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang
kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa
menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada
lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja
di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada
kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak
menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan
tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir
deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota.
Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang
tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi
mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan,
sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu
harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,
mengatakan,
"Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu
dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya.
Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan
sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja
reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat
sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,
"Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan
sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu
sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia
membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi
manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan
dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian
keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:
"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia
berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi
seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu
bertanya kepadanya,
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
"Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada
dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya
berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan
pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu
dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu
dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan
berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah,
tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang
sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama
saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima
kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini,
di depan kerumunan perayaan ini, air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six
times"
well ceritanya engga terlalu menyentuh tapi sumpahnya itu edan banget, masa masih kecil udah buat sumpah udah gitu ditepatin, rock n roll, gue punya tulisan abis baca cerita itu, gak nyambung sih tapi lumayanlah untuk dibloggin.
untuk apa kuatir
surya kembali menampakkan keangkuhannnya di timur sana
berat rasanya menapak pagi ke siang lalu malam
hari ini apa yang akan kudapatkan
dan apa yang akan hilang dariku
atau hari ini sama dengan nol
tidak ada yang hilang dan tidak ada yang kudapat
apa hari ini tuhan masih mengatur jalan hidupku
lalu kuambil waktu kurang dari satu menit
dan akhirnya kudapatkan
hatiku masih teguh berpegang akan rancangan hidupku
rancangan tuhan masih terstruktur rapih di jalanku
hilang semua cemas dan ragu
apa arti masa lalu yang suram
gerutuanku tadi itu seharusnya tidak pernah hadir
sekarang saatnya bangun dan bangkit
selagi jantung berdetak darah mengalir
berlarilah gapai semua mimpi dan citaku
bumi akan tetap indah dengan suryanya
Langganan:
Postingan (Atom)