Hei aku ini sakit so... heal me please...
aku sakit
sperti hujan riaki danau yang diam
dendamku tak berujung pangkal
diam di dalam enggan untuk mencair
drama kehidupan terkontaminasi
oleh gelapnya dunia malam
oleh suramnya nasib seorang wts
apakah ini akan tetap jadi penyakit
atau aku ini memang sakit
sebuah ancaman penuh teror terhadap sisi kelam kehidupan yang terus menerus meluas.
2004/01/26
yah... lagi kreatip kreatipnya nih... huhuhu
halooooooo jumpa lagi dengan dapit, d'ya miss me ?? hope so..
lalu lalang
1 pleton berarakan
dan pleton lainnya menyusul
raja ratu aman di dalamnya
skitarnya gundah akan ajal
arakan demi arakan
bisingkan suasana bisnis jakarta
tiap mata tersudut pada sinaran
sinar lampu sirine yang silaukan
dan suaranya yang peningkan
jarak ini pasti akan abadi
dan mungkin menjauhi ke fatamorgana
dan mungkin lenyap dimakan congkak
kami minta tolong untuk diperhatikan
jaga jarak ini tetap dekat
dan jangan jauhi apa lagi maya
250104-00.41
wayang kulitku
nafkahnya sperti ini kawan
bermahkotakan belangkon jawa
persenjatakan diri dengan keris
2-3 jam layaknya orang gila berlakon
7 peranan pewayangan ia makan
gamelan siluetkan hasrat berlakon
kata kata itu asing di telingaku
kamus otakku terbatas kata kata
sebagai pemujaan luhur, ku ikuti ritual dalang
yang keringatnya, darahnya ia sembahkan untuk seni
budaya ini raganya indonesia
akankah ini tetap lestari
atau berakhir seperti jamrud khatulistiwa
suatu hari pasti dia mati
seni itu punah salah siapa ?
aku ? maaf tanganku tidak sentuh wayangnya
jadi ? salah semua titik
wayang mati indonesia mati
tiap makhluk berktpkan indonesia campur tangan di dalamnya
dan dalangi tiap kepunahannya
biaskan seni itu di lubuk hatimu
pantulkan auranya pada air
nantinya luaslah impiannya
dalang pun tetap lestari
dunia pewayangan tetap mengalir
airi jiwa yang hatinya kehausan
250104-00.30
belum jelas
ketidakjelasan ini pasti terus bersemayam
gerogoti tiap napas jengahku
mimpi burukupun lahirkan pencerahan
cerah dengan tujuan sesat tentunya
cuaca berganti di tiap jarum jam berdetak
taman ini bunuh cita rasa seniku
coba khianati hati naluri
bohongi hati kecil ini
namun semua tetap berdiri
dalam ketidakjelasannya
gelap 10.35 250104
dagangan
jalani malam ini bagai wanita jalang lacurkan dirinya
esok pagi bubur ayam hangat kujual
di siangnya es podeng segar kutawarkan
sore hari baso pedas asam kujajakan
menuju malam kusiapkan lagi pelacuran hari berikutnya
aku ini pedagang segala
:p
lalu lalang
1 pleton berarakan
dan pleton lainnya menyusul
raja ratu aman di dalamnya
skitarnya gundah akan ajal
arakan demi arakan
bisingkan suasana bisnis jakarta
tiap mata tersudut pada sinaran
sinar lampu sirine yang silaukan
dan suaranya yang peningkan
jarak ini pasti akan abadi
dan mungkin menjauhi ke fatamorgana
dan mungkin lenyap dimakan congkak
kami minta tolong untuk diperhatikan
jaga jarak ini tetap dekat
dan jangan jauhi apa lagi maya
250104-00.41
wayang kulitku
nafkahnya sperti ini kawan
bermahkotakan belangkon jawa
persenjatakan diri dengan keris
2-3 jam layaknya orang gila berlakon
7 peranan pewayangan ia makan
gamelan siluetkan hasrat berlakon
kata kata itu asing di telingaku
kamus otakku terbatas kata kata
sebagai pemujaan luhur, ku ikuti ritual dalang
yang keringatnya, darahnya ia sembahkan untuk seni
budaya ini raganya indonesia
akankah ini tetap lestari
atau berakhir seperti jamrud khatulistiwa
suatu hari pasti dia mati
seni itu punah salah siapa ?
aku ? maaf tanganku tidak sentuh wayangnya
jadi ? salah semua titik
wayang mati indonesia mati
tiap makhluk berktpkan indonesia campur tangan di dalamnya
dan dalangi tiap kepunahannya
biaskan seni itu di lubuk hatimu
pantulkan auranya pada air
nantinya luaslah impiannya
dalang pun tetap lestari
dunia pewayangan tetap mengalir
airi jiwa yang hatinya kehausan
250104-00.30
belum jelas
ketidakjelasan ini pasti terus bersemayam
gerogoti tiap napas jengahku
mimpi burukupun lahirkan pencerahan
cerah dengan tujuan sesat tentunya
cuaca berganti di tiap jarum jam berdetak
taman ini bunuh cita rasa seniku
coba khianati hati naluri
bohongi hati kecil ini
namun semua tetap berdiri
dalam ketidakjelasannya
gelap 10.35 250104
dagangan
jalani malam ini bagai wanita jalang lacurkan dirinya
esok pagi bubur ayam hangat kujual
di siangnya es podeng segar kutawarkan
sore hari baso pedas asam kujajakan
menuju malam kusiapkan lagi pelacuran hari berikutnya
aku ini pedagang segala
:p
2004/01/22
GONG XI FAT CHAI
hoi.. tahun barunya orang cina nih... angpaw donk.... amplop merahnya dong enci engko..
besok kamis merah
rintik mhh bukan bukan rintik
derasnya air hujan
basahi genting yang kering
segarkan tiap daun kehausan
siang cerah tadi kini berlalu
berganti jadi awan kelam mendung
kilat petir hentakan jantung
coba pecahkan gendang telinga
bendera partai yang tadi berkibar
sekarang basah kuyup oleh banyu
tukang bakso yang laris waktu anak sd pulang
hanya menunggu derasnya hujan reda tuk jajakan bakso
di pinggiran kali rangkaian rumah tergenang jalannya air
penghuninya hanya pasrah diri pada air yang memperkosa istananya
ini bukan musim hujan, ini hari rabu
besok kamis merah di tanggalan masehi
catatan kecil di angka 22nya imlek katanya
tahun baru ! gong xi fat chai
doakan hari depan lebih cerah untuk indonesia
dan hujan ini jadi simbol berkat yang akan turun
berkat yang indah dan bukan lagi bencana
hujan berhenti, matahari sinari
tuhan berkati indonesiaku ini
rabu siang di kostan tengah hari ke21 purnama ke11 tahun ke2004
besok kamis merah
rintik mhh bukan bukan rintik
derasnya air hujan
basahi genting yang kering
segarkan tiap daun kehausan
siang cerah tadi kini berlalu
berganti jadi awan kelam mendung
kilat petir hentakan jantung
coba pecahkan gendang telinga
bendera partai yang tadi berkibar
sekarang basah kuyup oleh banyu
tukang bakso yang laris waktu anak sd pulang
hanya menunggu derasnya hujan reda tuk jajakan bakso
di pinggiran kali rangkaian rumah tergenang jalannya air
penghuninya hanya pasrah diri pada air yang memperkosa istananya
ini bukan musim hujan, ini hari rabu
besok kamis merah di tanggalan masehi
catatan kecil di angka 22nya imlek katanya
tahun baru ! gong xi fat chai
doakan hari depan lebih cerah untuk indonesia
dan hujan ini jadi simbol berkat yang akan turun
berkat yang indah dan bukan lagi bencana
hujan berhenti, matahari sinari
tuhan berkati indonesiaku ini
rabu siang di kostan tengah hari ke21 purnama ke11 tahun ke2004
2004/01/16
immortal fault
Hei lo.. suci ? tanpa dosa ? berani menghakimi, liat sekeliling lo semuanya dosa man.. so apa sih yg mereka mau ????
aku adalah kesalahan abadi
tiap detik yang kutiti
di detik itu kudapati
setiap jalan yang kulewati
di jalan itu kutemui
orang buta di mata hati
agamis yang keras hati
hakim yang sok suci
keangkuhan seorang petinggi
dosa yang telah membasi
berjamur semerbak terasi
subjek itu telah terpatri
dan termaterai di dahi
di jidatku ini
kenapa itu harus terjadi
setidaknya ada kata ampuni
walaupun itu hanya satu kali
akan kuhargai
pastinya akan berarti
baik semua itu sia sia
ini hanya angan angan saja
harapan kosong belaka
sekarang terima saja
ingin sekali teriak
tapi siapa yang mau dengar
ingin marah ingin menangis
tolong dengarkan dan perhatikan
tolong aku tahu kamu peduli
aku ini saudaramu
-dfd-
aku adalah kesalahan abadi
tiap detik yang kutiti
di detik itu kudapati
setiap jalan yang kulewati
di jalan itu kutemui
orang buta di mata hati
agamis yang keras hati
hakim yang sok suci
keangkuhan seorang petinggi
dosa yang telah membasi
berjamur semerbak terasi
subjek itu telah terpatri
dan termaterai di dahi
di jidatku ini
kenapa itu harus terjadi
setidaknya ada kata ampuni
walaupun itu hanya satu kali
akan kuhargai
pastinya akan berarti
baik semua itu sia sia
ini hanya angan angan saja
harapan kosong belaka
sekarang terima saja
ingin sekali teriak
tapi siapa yang mau dengar
ingin marah ingin menangis
tolong dengarkan dan perhatikan
tolong aku tahu kamu peduli
aku ini saudaramu
-dfd-
2004/01/11
Fresh dan mengharukan dari Faiz
Anak kecil yang pengen ikut2an politik.. heh lo belajar dulu deh. kencing aja blom lurus mo ngatur negara... ntar tambah acak2an sapa yang tanggung jawab ???
Hari ini Faiz pulang cepat dari sekolah. Sambil bermain komputer, ia
menanyakan berbagai hal tentang Pemilu 2004. Tentang KPU,usia pemilih
dan yang dipilih, tentang artis yang menjadi caleg, tentang apa dan
siapa yang disebut politikus busuk, soal bagaimana mekanisme pemilihan
bagi para tunanetra dan masih banyak lagi. Saya sampai kewalahan
menjawabnya. Ia terus mengoceh ini itu. Saya katakan, "bagaimana kalau
Faiz tulis apa yang ingin Faiz sampaikan seperti biasa? Siapa tahu bisa
jadi puisi bagus?"
"Iya, Bunda," katanya ringan.
Tapi kemudian ia menghilang dan saya temukan sedang asyik membaca buku
cerita "Kluntung Waluh" di garasi. Satu jam kemudian ia sudah sibuk
menceritakan kembali isi buku tersebut pada kedua pembantu kami.
Kluntung Waluh bercerita tentang seorang anak kecil miskin yang lahir
tanpa kaki dan tangan. Namun ia tak pernah mengeluh dan rajin membantu
ibunya. "Anak kecil aja bisa begitu!" seru Faiz.
Ia kembali masuk ke kamar dan duduk di depan komputer. Saya pikir, ia
akan bermain game atau menulis tentang Kluntung Waluh yang telah
menyentuh hatinya. Ternyata tidak.
Menjelang salat jum'at, jadilah puisi di bawah ini. Puisi yang sangat
menyentuh bagi saya, hingga saya menitikkan airmata. Dan sambil
memiringkan kepalanya, menatap saya serius, Faiz malah bertanya,
"Mengapa sih bunda menangis lagi karena puisi?"
SAJAK ANAK 8 TAHUN, MENJELANG PEMILU
Bunda
mengapa anak 8 tahun
tak boleh ikut pemilu?
Karena kalau kami bisa memilih
kami akan pilih
mereka yang berbudi
dan selalu peduli
yang tak pentingkan diri sendiri
tak pernah melanggar hukum
serta paling anti korupsi.
Kami pasti memilih
mereka yang berwawasan
namun takut pada Tuhan.
Tak usah tawari kami uang
apalagi permen atau mainan
kami tiada sudi.
sebab kami pemilih sejati
yang rindu senyuman negeri.
maka orang-orang yang tak bersih
menyingkirlah dari jalan ini.
Bunda, mengapa anak 8 tahun
tak boleh memilih
dan harus menunggu
sampai 2014?
Sebab andai bisa memilih
dalam pemilu ini,
kami akan pastikan yang terbaik
bagi Indonesia.
( 9 Januari, 2004, Abdurahman Faiz)
Hari ini Faiz pulang cepat dari sekolah. Sambil bermain komputer, ia
menanyakan berbagai hal tentang Pemilu 2004. Tentang KPU,usia pemilih
dan yang dipilih, tentang artis yang menjadi caleg, tentang apa dan
siapa yang disebut politikus busuk, soal bagaimana mekanisme pemilihan
bagi para tunanetra dan masih banyak lagi. Saya sampai kewalahan
menjawabnya. Ia terus mengoceh ini itu. Saya katakan, "bagaimana kalau
Faiz tulis apa yang ingin Faiz sampaikan seperti biasa? Siapa tahu bisa
jadi puisi bagus?"
"Iya, Bunda," katanya ringan.
Tapi kemudian ia menghilang dan saya temukan sedang asyik membaca buku
cerita "Kluntung Waluh" di garasi. Satu jam kemudian ia sudah sibuk
menceritakan kembali isi buku tersebut pada kedua pembantu kami.
Kluntung Waluh bercerita tentang seorang anak kecil miskin yang lahir
tanpa kaki dan tangan. Namun ia tak pernah mengeluh dan rajin membantu
ibunya. "Anak kecil aja bisa begitu!" seru Faiz.
Ia kembali masuk ke kamar dan duduk di depan komputer. Saya pikir, ia
akan bermain game atau menulis tentang Kluntung Waluh yang telah
menyentuh hatinya. Ternyata tidak.
Menjelang salat jum'at, jadilah puisi di bawah ini. Puisi yang sangat
menyentuh bagi saya, hingga saya menitikkan airmata. Dan sambil
memiringkan kepalanya, menatap saya serius, Faiz malah bertanya,
"Mengapa sih bunda menangis lagi karena puisi?"
SAJAK ANAK 8 TAHUN, MENJELANG PEMILU
Bunda
mengapa anak 8 tahun
tak boleh ikut pemilu?
Karena kalau kami bisa memilih
kami akan pilih
mereka yang berbudi
dan selalu peduli
yang tak pentingkan diri sendiri
tak pernah melanggar hukum
serta paling anti korupsi.
Kami pasti memilih
mereka yang berwawasan
namun takut pada Tuhan.
Tak usah tawari kami uang
apalagi permen atau mainan
kami tiada sudi.
sebab kami pemilih sejati
yang rindu senyuman negeri.
maka orang-orang yang tak bersih
menyingkirlah dari jalan ini.
Bunda, mengapa anak 8 tahun
tak boleh memilih
dan harus menunggu
sampai 2014?
Sebab andai bisa memilih
dalam pemilu ini,
kami akan pastikan yang terbaik
bagi Indonesia.
( 9 Januari, 2004, Abdurahman Faiz)
2003/12/12
mimpi = omong kosng
hei.. jumpa lagi dengan metalerz kondang.. coba pahami tulisan dibawah..
mimpi semu
guratan luka di hati
entah pulih kapan hari
sedikit nafsu birahi
membunuh harapan hidup ini
yakini hidup tak berarti
dan coba tuk hadapi
tapi tetapku tak berani
apakah harus kuakhiri
sampai disini
kosong tak berisi
sekedar mimpi-mimpi
sejalan dengan berlalunya hari
-dfd-
mimpi semu
guratan luka di hati
entah pulih kapan hari
sedikit nafsu birahi
membunuh harapan hidup ini
yakini hidup tak berarti
dan coba tuk hadapi
tapi tetapku tak berani
apakah harus kuakhiri
sampai disini
kosong tak berisi
sekedar mimpi-mimpi
sejalan dengan berlalunya hari
-dfd-
2003/12/10
gentayangan
karena pusing dan takut ada setan, so mendingan nulis aja cara jadi setan.. ikuti cara cara dibawah..
obsesi mati
sejenak lirih perih terhirup
setelah belati setubuhi nadi
secercak getih mengalir deras
serasa dingin menusuk tulang
namaku tertanam di nisan
tanah kubur yang segar
semuanya indah
kini diriku gentayangan
kikikikikik.....
obsesi mati
sejenak lirih perih terhirup
setelah belati setubuhi nadi
secercak getih mengalir deras
serasa dingin menusuk tulang
namaku tertanam di nisan
tanah kubur yang segar
semuanya indah
kini diriku gentayangan
kikikikikik.....
rindukan pagi...
dimana pagiku
sudah pagi dimana kau mentari
dimana kau embun pagi
haruskah pagi ini kulalui
tanpa kalian saat ini
hari kemarin dirimu setia
hari kemarin sinarmu indah
kemarin juga embun kuterima
apakah pagi ini harus kurelakan
kuharap pagi esok lebih indah
pagi yang cerah
pagi yang setia
sampai jumpa pagiku..
sudah pagi dimana kau mentari
dimana kau embun pagi
haruskah pagi ini kulalui
tanpa kalian saat ini
hari kemarin dirimu setia
hari kemarin sinarmu indah
kemarin juga embun kuterima
apakah pagi ini harus kurelakan
kuharap pagi esok lebih indah
pagi yang cerah
pagi yang setia
sampai jumpa pagiku..
2003/12/05
FAIZ
Faiz aja ngerti
Masih ingat Faiz kan ? yang memenangkan lomba menulis surat ke Ibu
Presiden, yang masih berumur 8 tahun. Berikut saya attach bagian bukunya
yang akan terbit desember nanti. Berisi puisi2 karangannya, dengan
pengantar Taufiq Ismail booooooooo. Ketika dia berusia 3 tahun, dia
berkata pada ibunya :
"Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga"
dan ketika umur 8 tahun :
PUISI BUNDA 2
"Engkau adalah puisi abadiku
yang tak mungkin kutemukan dalam buku"
Udah deh, silahkan simak di bawah bagus......
====================================================================
UNTUK BUNDA DAN DUNIA
Karya: Abdurahman Faiz
Kata Pengantar Taufiq Ismail
BU PRESIDEN, AKU JANGAN DIPENJARA, YA
Kumpulan sajak ini, Untuk Bunda dan Dunia, sungguh unik, karena
pengarangnya, Abdurahman Faiz, berumur 8 tahun. Dia lahir di Jakarta, 15
November 1995. Ibunya, Helvy Tiana Rosa adalah pengarang, dan ayahnya,
Tomi Satryatomo, wartawan. Faktor genetik dan lingkungan kepenulisan
dengan budaya membaca di rumah, secara dini telah membentuk Faiz.
Sebelum menguasai aksara, cara bicara Faiz saja, karena puitiknya, sudah
menggemaskan orangtuanya. Di tahun 1998, dia mengatakan pada mamanya,
"Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga." Waktu itu Faiz
berumur 3 tahun. Konon banyak kata-kata bijak seperti itu berhamburan
dari anak ini karena dia suka berkisah dan gemar bermain peran seperti
dalam drama.
Sesudah mampu mengetik dengan komputer meja dan laptop orangtuanya, Faiz
mulai menulis. Tapi kalau menulis sajak, dia memilih layar telefon
genggam yang kecil itu untuk menaruh larik-larik sajaknya.
Dari dua puluh sajak Faiz yang ditulisnya mulai Juli 2001 sampai dengan
November 2003 ini, 8 mengenai ibu dan ayahnya, 7 tentang situasi sosial
dan 5 tentang tokoh masyarakat.
Kecintaan Faiz terhadap orangtuanya, pastilah karena lingkungan
interaksinya di rumah yang penuh kasih sayang pula. Saya kutipkan 2
ungkapannya yang orisinal (dari "Ayah Bundaku") dan mengharukan berikut
ini:
Ayah Bunda
kucintai kau berdua
seperti aku mencintai surga
Semoga Allah mencium ayah bunda
dalam tamanNya terindah nanti
(Januari 2002)
Dia lebih banyak menulis tentang ibunya. Sajaknya ada yang langsung,
terasa jelas apa yang dimaksudkannya, tapi ada pula yang maknanya
dibiarkannya menggantung, dan diserahkannya pada kita untuk menafsirkan
lebih lanjut:
JALAN BUNDA
bunda
engkaulah yang menuntunku
ke jalan kupu-kupu
(September 2003)
Lima sajak sosial Faiz menunjukkan kepekaan yang dalam terhadap
duka-derita kehidupan manusia. "Siti dan Udin di Jalan", sepanjang 8
bait, 38 baris berkisah tentang penggenjot becak beristerikan tukang
cuci pakaian, yang mewakili ribuan lagi orang senasib, yang "tetap
berdoa/agar bisa sekolah/dan punya rumah berjendela." Rumah kardus
mereka, menurut pengamatan Faiz, tak ada yang berjendela. Sebuah
pengamatan anak 8 tahun yang teliti.
Saya tersentak membaca "Pengungsi di Negeri Sendiri" (Oktober 2003).
Saya kok lupa pada saudara-saudara kita itu, satu juta jumlahnya
(mudah-mudahan sudah menyusut), akibat Balkanisasi dan perang saudara,
yang terusir dari rumah dan kampung halaman sendiri. Saya malu, saya
mulai lupa mereka. Cucunda Faiz, terima kasih. Engkau telah mengingatkan
aku lagi pada mereka. Mari kita berbuat sesuatu untuk orang-orang
sebangsa yang bernasib malang itu dan kita baca Al-Fatihah untuk mereka.
Al Fatihah.
Faiz juga kenal sejumlah tokoh, dan menulis sajak mengenai mereka, yaitu
Rasulullah Muhammad saw, tokoh novel super-populer Harry Potter, tokoh
novel Frodo (dari Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien), proklamator
Bung Hatta dan dua presiden, yaitu George W. Bush dan Megawati
Sukarnoputeri.
Ibunya diundang sebagai sastrawati berceramah di Universitas Madison,
Wisconsin dan Universitas Michigan, Ann Arbor, Michigan di bulan
September 2003. Pengetahuan umum Faiz bukan main, yang diketahuinya
lewat media massa dan tentunya percakapan di rumah, tentang kemungkinan
repotnya ibunya yang berjilbab pergi ke Amerika Serikat pada hari-hari
ini:
dari berita yang kubaca
Amerika penuh rekayasa
khawatir pun melanda
bila jilbab dijadikan masalah
Bagaimana bila bunda
tiba-tiba dianggap anggota alqaidah?
bukankah Presiden Amerika
menuduh dengan mudah
siapa saja yang tak dia suka?
Tapi syukurlah kekhawatirannya tak terjadi dan bundanya selamat
sepanjang perjalanan.
Faiz ikut Lomba Menulis Surat untuk Presiden RI sehubungan dengan Hari
Anak Nasional 2003 dan jadi pemenang pertama. "Surat buat Ibu Negara"
yang dimuat dalam kumpulan ini adalah bentuk sajak dari surat yang
memenangkan hadiah tertinggi dan menawan perhatian luas di media massa
Indonesia karena bijaknya. Dalam setiap bait dari keenam bait sajaknya
ini terdapat ungkapan, cita-cita dan saran pada Presiden RI dalam idiom
anak-anak yang segar.
Faiz sendiri juga bercita-cita kelak jadi presiden dengan kualifikasi
kecerdasan bisa bicara 10 bahasa, pandai membuat komputer sendiri,
dicintai orang-orang (dia tidak pilih kata klise rakyat) dan persyaratan
yang paling
berat: kalau mati masuk surga.
Sebagai penutup surat, setelah usul ini-itu yang dikhawatirkannya
menyinggung perasaan presiden, Faiz bersajak:
Sudah dulu ya.
Ibu jangan marah ya.
Kalau tidak senang
aku jangan dipenjara ya.
Terimakasih.
Kemampuan Faiz menulis, dalam perkiraan saya, 10 tahun melompati
umurnya. Remaja berusia 18 tahun, jika mampu menulis serapi ini, sudah
terbilang bagus sekali. Ayah bunda Faiz dititipi Allah bakat brilyan
yang mereka harus jaga dan tumbuhkan sebaik-baiknya. Janganlah sampai
kemashuran dini mengguncangnya dan mengganggu perkembangan psikologi
Faiz selanjutnya.
Mudah-mudahan ibunda Helvy dan ayahanda Tomi berhasil baik dan cucunda
Faiz mencapai cita-citanya dalam naungan ridha Allah SWT.
Amin.
Jakarta, Ramadhan 1404 H / 6 November 2003 M.
TERIMAKASIH DARI FAIZ
Faiz mengucapkan terimakasih tak terhingga kepada Allah SWT, kepada Ayah
dan Bunda atas cinta dan dukungan yang berlimpah. Juga untuk Pak Tuo
Taufiq Ismail yang aku kagumi. Om Jamal D. Rahman, Om Agus R. Sarjono
yang suka menyemangatiku lewat sms. Tante Medy Loekito, Pak Tuo Hamid
Jabbar, Om Ahmadun Y. Herfanda, Om Binhad Nurohmat yang sudah mau
membaca karya-karyaku sebelum menjadi buku. Untuk Oma Maria, Opa Amin,
Eyang Wiyati, Mami Rani, Papi Isa, Papi Eron, Mbak Menuk, Om Ferry, Om
Bimo, Tante Alif, Mbak Kiki, Caca, Adam, Om Ali Muakhir, Om Andi Yudha,
Penerbit Mizan, guru-guru dan teman-temanku semua. Kupersembahkan
puisi-puisi ini untuk kalian dan untuk dunia. Semoga bermanfaat ya.
Salam manis,
Abdurahman Faiz
HATTA
Engkau adalah kenangan
yang tumbuh dalam kepala dan jiwaku
Suatu malam kau datang dalam mimpiku
katamu:
jangan lelah menebar kebajikan
jadikan kesederhaan
sebagai teman paling setia
Aku anak kecil
berjanji menepati
jadi akan kusurati lagi
presiden kita
hari ini
(17 Agustus 2003)
PUISI BUNDA
bunda hanya sedikit mengarang puisi untukku
tapi semakin lama kuamati
senyuman bunda adalah puisi
tatapan bunda adalah puisi
teguran bunda adalah puisi
belaian dan doanya adalah puisi cinta
yang disampaikannya padaku
tak putus putus
tak putus putus
bahkan bila kutidur
(Mei 2003)
SITI DAN UDIN DI JALAN
Siti dan Udin namanya
sejak pagi belum makan
minum cuma seadanya
dengan membawa kecrekan
mengitari jalan-jalan ibu kota
Siti punya ayah
seorang tukang becak
ibunya tukang cuci
berbadan ringkih
Udin tak tahu di mana ayahnya
ditinggal sejak bayi
ibunya hanya pemulung
memunguti kardus dan plastik bekas
Mereka bangun rumah
dari triplek dan kardus tebal
di tepi kali ciliwung
tapi sering kena gusur
Bila malam tiba
mereka tidur di kolong jembatan
ditemani nyanyian nyamuk
dan suara bentakan preman
Siti dan Udin namanya
muka mereka penuh debu
dengan baju rombengan
menyanyi di tengah kebisingan
pagi sampai malam
tersenyum dalam peluh
menyapa om dan tante
mengharap receh seadanya
Beribu Siti dan Udin
berkeliaran di jalan-jalan
dengan suara serak
dan napas sesak oleh polusi
kalau hari ini bisa makan
sudah alhamdulillah
tapi tetap berdoa
agar bisa sekolah
dan punya rumah berjendela
(Februari 2003)
HARRY POTTER
Sudahkah kau temukan
ramuan paling rahasia itu
agar seluruh orang di dunia
bisa saling cinta?
(Oktober 2002)
AYAH BUNDAKU
Bunda
engkau adalah
rembulan yang menari
dalam dadaku
Ayah
engkau adalah
matahari yang menghangatkan
hatiku
Ayah Bunda
kucintai kau berdua
seperti aku mencintai surga
Semoga Allah mencium ayah bunda
dalam tamanNya terindah nanti
(Januari 2002)
MENARUH
Aku menaruh semua mainan
dan teman di sisiku
Aku menaruh bunda di hatiku
dekat sekali
dengan tempat kebaikan
Tapi
Aku tak bisa menaruh Allah
Ia menaruhku di bumi
bersama bunda dan semua
Ia ada dalam tiap napas
dan penglihatanku
Allah, hari ini kumohon
taruhlah para anak jalanan,
teman-teman kecilku yang miskin
dan menderita
dalam belaianMu
dan buatlah ayah bunda
menjadi kaya
dan menaruh mereka
di rumah kami
Amin.
(Juli 2001)
JALAN BUNDA
bunda
engkaulah yang menuntunku
ke jalan kupu-kupu
(September 2003)
SURAT BUAT IBU NEGARA
Kepada Yang Terhormat
Presiden Republik Indonesia
Megawati
Di Istana
Assalaamualaikum.
Ibu Mega, apa kabar?
Aku harap ibu baik-baik seperti aku saat ini.
Ibu, di kelas badanku paling tinggi.
Cita-citaku juga tinggi.
Aku mau jadi presiden.
Tapi baik.
Presiden yang pintar,
bisa buat komputer sendiri.
Yang tegas sekali.
Bisa bicara 10 bahasa.
Presiden yang dicintai orang-orang.
Kalau meninggal masuk surga.
Ibu sayang,
Bunda pernah cerita
tentang Umar sahabat Nabi Muhammad.
Dia itu pemimpin.
Umar suka jalan-jalan
ke tempat yang banyak orang miskinnya.
Tapi orang-orang tidak tahu kalau itu Umar.
Soalnya Umar menyamar.
Umar juga tidak bawa pengawal.
Umar jadi tahu
kalau ada orang yang kesusahan di negerinya
Dia bisa cepat menolong.
Kalau jadi presiden
aku juga mau seperti Umar.
Tapi masih lama sekali.
Harus sudah tua dan kalau dipilih orang.
Jadi aku mengirim surat ini
Mau mengajak ibu menyamar.
Malam-malam kita bisa pergi
ke tempat yang banyak orang miskinnya.
Pakai baju robek dan jelek.
Muka dibuat kotor.
Kita dengar kesusahan rakyat.
Terus kita tolong.
Tapi ibu jangan bawa pengawal.
Jangan bilang-bilang.
Kita tidak usah pergi jauh-jauh.
Di dekat rumahku juga banyak anak jalanan.
Mereka mengamen mengemis.
Tidak ada bapak ibunya.
Terus banyak orang jahat
minta duit dari anak-anak kecil.
Kasihan.
Ibu Presiden,
kalau mau, ibu balas surat aku ya.
Jangan ketahuan pengawal
nanti ibu tidak boleh pergi.
Aku yang jaga
supaya ibu tidak diganggu orang.
Ibu jangan takut.
Presiden kan punya baju tidak mempan peluru.
Ada kan seperti di filem?
Pakai saja.
Ibu juga bisa kurus
kalau jalan kaki terus.
Tapi tidak apa.
Sehat.
Jadi ibu bisa kenal orang-orang miskin
di negara Indonesia.
Bisa tahu sendiri
tidak usah tunggu laporan
karena sering ada korupsi.
Sudah dulu ya.
Ibu jangan marah ya.
Kalau tidak senang
aku jangan dipenjara ya.
Terimakasih.
Dari
Abdurahman Faiz
Kelas II SDN 02 Cipayung Jakarta Timur
PENGUNGSI DI NEGERI SENDIRI
Tak ada lagi yang menari
di antara tenda-tenda kumuh di sini
hanya derita yang melekat di mata
dan hati kami
Tidak satu nyanyian pun
pernah kami dendangkan lagi
hanya lagu-lagu airmata
di antara lapar, dahaga
pada pergantian musim
Sampaikah padamu, saudaraku?
(Oktober 2003)
BUNDA CINTAKU
Bunda
kau selalu ada di sisiku
kau selalu di hatiku
senyummu rembulan
baktimu seperti matahari
yang setia menyinari
dan cintamu adalah udara
yang kuhirup setiap hari
meski di dalam sedih
walau dalam susah
langkahmu pasti
jadikan aku insan berarti
terimakasih bunda cintaku
(November 2002)
TUJUH LUKA DI HARI ULANGTAHUNKU
Sehari sebelum ulangtahunku
aku terjatuh di selokan besar
ada tujuh luka membekas, berdarah
aku mencoba tertawa, malah meringis
Sehari sebelum ulangtahunku
negeriku masih juga begitu
lebih dari tujuh luka membekas
kemiskinan, kejahatan,
korupsi di mana-mana,
pengangguran, pengungsi
jadi pemandangan
yang meletihkan mata
menyakitkan hati
Tapi ada yang seperti lucu di negeriku
orang yang ketahuan berbuat jahat
tidak selalu dihukum
namun orang baik bisa dipenjara
Pada ulangtahunku yang kedelapan
aku berdiri di sini dengan tujuh luka
sambil membayangkan Indonesia Raya
dan selokan besar itu
Tiba-tiba aku ingin menangis
(15 November 2003)
YANTO DAN MAZDA
Yanto dan Mazda, tidurlah
malam telah larut
Frodo dan Sam sedang berjuang
memusnahkan Sauron
tidakkah sebaiknya kita
cium kening bunda
dan selekasnya masuk
lewat pintu-pintu mimpi
untuk membantu mereka?
(Februari, 2003)
SIAPA MAU JADI PRESIDEN?
menjadi presiden itu
berarti melayani
dengan segenap hati
rakyat yang meminta suka
dan menyerahkan jutaan
keranjang dukanya padamu
(November, 2003)
DARI SEORANG ANAK IRAK DALAM MIMPIKU, UNTUK BUSH
Mengapa kau biarkan anak-anak meneguk derita
peluru-peluru itu bicara pada tubuh kami
dengan bahasa yang paling perih
Irak, Afghanistan, Palestina
dan entah negeri mana lagi
meratap-ratap
Mengapa kau koyak tubuh kami?
apa yang kau cari?
apa salah kami?
kami hanya bocah
yang selalu gemetar mendengar
keributan dan ledakan
mengapa kau perangi bapak ibu kami?
Kini
kami tak pernah lagi melihat pelangi
hanya api di matamu
dan sejarah yang perih
tapi kami sudah tak bisa lagi menangis
Kami berdarah
Kami mati
(Oktober 2003)
PENULIS
Ayahku wartawan
bundaku sastrawan
dan akulah dia
yang susah payah
mengumpulkan semua cinta
semua duka
menjadikannya untaian kata
yang kualamatkan pada dunia
mungkin menjadi kebaikan
yang bisa dibaca siapa saja
dan sedikit uang
untuk kusedekahkan
pada fakir miskin
(Agustus 2003)
MUHAMMAD RINDUKU
Kalau kau mencintai Muhammad
ikutilah dia
sepenuh hati
apa yang dikatakan
apa yang dilakukan
ikuti semua
jangan kau tawar lagi
sebab ialah lelaki utama itu
memang jalan yang ditempuhnya
sungguh susah
hingga dengannya terbelah bulan
tapi kalau kau mencintai Rasul
ikutilah dia
sepenuh rindumu
dan akan sampailah kau padaNya
(April 2003)
KEPADA KORUPTOR
Gantilah makanan bapak
dengan nasi putih, sayur dan daging
jangan makan uang kami
lihatlah airmata para bocah
yang menderas di tiap lampu merah jalan-jalan Jakarta
dengarlah jerit lapar mereka di pengungsian
juga doa kanak-kanak yang ingin sekali sekolah
Telah bapak saksikan
orang-orang miskin memenuhi seluruh negeri
tidakkah menggetarkan bapak?
Tolong, Pak
gantilah makanan bapak seperti manusia
jangan makan uang kami
(Oktober 2003)
DOAKU HARI INI
Tuhanku
berikanlah waktumu padaku
untuk tumbuh di jalan cinta
dan menyemainya
di sepanjang jalan ayah bundaku
di sepanjang jalan Indonesiaku
di sepanjang jalan menujuMu
Amin
(Juli, 2003)
BUNDA KE AMERIKA
Sepucuk surat undangan sampai pagi ini di rumah kami
untuk bundaku tercinta
dari universitas di Amerika
aku tahu bundaku pintar
juga amat berbudaya
tak heran bila ia diundang bicara
sampai ke negeri adidaya
ia adalah muslimah ramah
dengan jilbab tak pernah lepas dari kepala
sehari-hari berbicara benar
dan tak henti membela yang lemah
dari berita yang kubaca
Amerika penuh rekayasa
khawatir pun melanda
bila jilbab dijadikan masalah
Bagaimana bila bunda
tiba-tiba dianggap anggota alqaidah?
bukankah Presiden Amerika
menuduh dengan mudah
siapa saja yang tak dia suka?
Maka aku minta kepada Allah
agar bunda dilindungi senantiasa
bunda tersenyum dan memelukku
ia teguh pergi dengan jilbab di kepala
katanya: hanya Allah maha penjaga
(September 2003)
PUISI BUNDA 2
Engkau adalah puisi abadiku
yang tak mungkin kutemukan dalam buku
(November 2003)
FAIZ
Nama lengkapnya Abdurahman Faiz, lahir di Jakarta, 15 November 1995.
Pada usia 13 bulan mengalami retak di tempurung kepala bagian belakang
karena terjatuh dari sebuah kursi tinggi. Dokter menganggap sebuah
mukjizat ketika dalam perkembangannya Faiz tak menunjukkan gejala
gangguan otak atau kecerdasan. Ia sempat dirawat 2 minggu di Rumah Sakit
karena hal tersebut.
Sejak usia 2 tahun Faiz sangat suka bercerita dan bermain peran. Ia
pernah
berkata: "Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga,"
ketika usianya baru 3 tahun.
Ya, sejak saat itu, setiap waktu, Faiz bisa tiba-tiba mengeluarkan
kalimat-kalimat puitis layaknya seorang penyair. Namun karena tidak
langsung ditulis, puisi-puisi itu banyak yang tidak terdokumentasi (Faiz
baru mulai mau menulisnya pertengahan tahun 2001).
Saat Faiz tahu buku ini akan terbit, misalnya, ia spontan berkata:
"Bunda, engkau adalah puisi abadiku, yang tak mungkin kutemukan dalam
buku." Dan seperti biasa, sang bunda langsung berseru, "Apa, nak?
Tunggu, kamu harus menuliskan kalimat itu! Itu puisi yang sangat indah!"
Pada usia 3 tahun pula ia bercerita dengan mimik serius tentang temannya
bernama Mimis. "Kasihan deh, Bunda. Mimis itu ibunya tukang cuci,
bapaknya satpam di mall. Ibunya sakit-sakitan sampai batuk darah. Mall
tempat bapaknya bekerja dibakar dan dijarah orang banyak. Aku kasihan
sekali padanya."
Tentu Bunda Faiz, Helvy Tiana Rosa yang juga seorang cerpenis
kebingungan. Seingatnya Faiz tak memiliki teman bernama Mimis. Lagi pula
anak itu bahkan belum masuk play group maupun TK. Tapi Faiz terus
bercerita. "Kasihan deh si Mimis itu. Kita harus menolong dong, Bunda."
Akhirnya Sang Bunda berkata: "Faiz, mari kita tolong Mimis. Dia tinggal
di mana? Kok bunda belum tahu?"
Tiba-tiba Faiz tertawa gelak: "Bunda..... bunda!" serunya masih menahan
tawa. "Mimis itu kan cuma teman khayalanku saja!"
Rupanya ia sudah mengerti konsep teman khayalan. Tinggal bundanya yang
geleng-geleng kepala. Sejak kecil Faiz juga sudah sering bertanya yang
aneh-aneh kepada bunda, maupun ayahnya: Tomi Satryatomo yang bekerja
sebagai wartawan. Misalnya: Ayah, mengapa angin itu tidak kelihatan?
Mengapa awan ada di atas? Kan kalau di bawah enak dijadikan tempat
tidur? Mengapa api dinamakan api? Mengapa laut asin? Mengapa Tuhan hanya
satu? Adakah orang tinggal di Bintang? Dan lain sebagainya.
Menjelang usia 5 tahun, Faiz masuk ke TK Pelita di dekat rumahnya.
Setahun kemudian ia didaftarkan ke SD negeri. Tapi, karena usianya belum
6 tahun, ia belum diterima. Baru pada usia menjelang 7 tahun ia masuk di
kelas I SDN 02 Cipayung yang juga tak jauh dari rumahnya.
Kegiatan sehari-hari Faiz adalah sekolah, les, mengaji dan bermain. Ia
juga suka sekali mempelajari alat elektronik. Ia terbiasa dengan
komputer sejak usia 3 tahun. Saat balita ia bisa mengoperasikan PDA,
laptop, internet, HP jenis apa pun, kamera digital bahkan handycam. Ia
juga sudah memiliki laptop sendiri--bekas bunda. Anehnya ia lebih suka
menulis puisi di HP.
Faiz yang suka berolahraga dan mengoleksi banyak buku ini, bercita-cita
menjadi seorang presiden yang juga professor. Agustus 2003 lalu, ia
menjadi Juara I Lomba Menulis Surat untuk Presiden, Tingkat Nasional,
yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, dalam rangka Hari Anak
Nasional 2003. Sejak saat itu ia kerap diburu wartawan dan menjadi tamu
dalam beberapa acara televisi antara lain Liputan 6 dan Who Wants to be
A President. Ia juga ditawari bermain sinetron tapi ia menolak.
"Ternyata menjadi terkenal itu tidak enak ya. Capek dikejar-kejar orang.
Semua mencium kita sembarangan. Tapi enaknya kita bisa gampang menolong
orang," komentar tiga besar di kelas II SDN 02 Cipayung yang juga
anggota Forum Lingkar Pena Kids ini.
KOMENTAR PARA PENYAIR
Puisi Faiz belum banyak, tetapi mampu menimbulkan keharuan yang mendalam
ketika saya membacanya. Ia bicara cinta dengan agung. Ia bicara agama
dengan anggun. Ia bicara derita manusia dengan bening. Mengutip akhir
puisi "Siti dan Udin di Jalan": dan punya rumah berjendela, nampaknya
sebuah keinginan sederhana, namun sesungguhnya teramat dalam maknanya,
sebab jendela adalah tempat kita menengok dunia luar, dan selama jendela
kita terbuka, hidup adalah indah. (Medy Loekito, penyair, Yayasan
Multimedia
Sastra)
Faiz, puisi-puisimu mencerminkan perasaan dan hatimu yang bening. Dari
puisi-puisimu aku tahu hati dan perasaanmu selalu bergolak melihat apa
pun di sekitarmu. Dan bahasamu sebening hatimu. (Jamal D. Rahman,
penyair, Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison)
Faiz, berpikir lebih 'gila' lagi, tapi tetap bicara dengan hati! (Hamid
Jabbar, Penyair, Redaktur Senior Majalah Horison)
Faiz, puisimu seperti danau, tempatku melihat bayang-bayang dan juga
ingatan masa kanakku, yang telah berdiri jauh di belakangku. (Binhad
Nurohmat, penyair, Koordinator Serikat Baca Dunia )
Sejujurnya, membaca sajak-sajak Faiz saya sungguh-sungguh tercengang. Ia
tampaknya dikaruniai bakat kepengarangan yang cukup luar biasa. Baru
berusia 8 tahun, tapi sudah mampu membuat sajak-sajak yang tidak hanya
indah dan rapi bahasanya, tapi juga sangat bermakna. Semoga dia kelak
menjadi sastrawan besar yang mampu mengharumkan nama bangsa. (Ahmadun
Yosi Herfanda, penyair. Redaktur Budaya Harian Republika)
Faiz, jalan kupu-kupu yang kau tempuh itu, membikinku ingin menjadi
kanak-kanak lagi. Karena meski surga ada di telapak kaki ibu, jalan ke
sana pastilah lewat kebeningan dan keriangan jiwa kanak, yang begitu
bercahaya dalam sajak-sajakmu. (Agus R. Sarjono, penyair, Ketua Dewan
Kesenian
Jakarta)
Masih ingat Faiz kan ? yang memenangkan lomba menulis surat ke Ibu
Presiden, yang masih berumur 8 tahun. Berikut saya attach bagian bukunya
yang akan terbit desember nanti. Berisi puisi2 karangannya, dengan
pengantar Taufiq Ismail booooooooo. Ketika dia berusia 3 tahun, dia
berkata pada ibunya :
"Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga"
dan ketika umur 8 tahun :
PUISI BUNDA 2
"Engkau adalah puisi abadiku
yang tak mungkin kutemukan dalam buku"
Udah deh, silahkan simak di bawah bagus......
====================================================================
UNTUK BUNDA DAN DUNIA
Karya: Abdurahman Faiz
Kata Pengantar Taufiq Ismail
BU PRESIDEN, AKU JANGAN DIPENJARA, YA
Kumpulan sajak ini, Untuk Bunda dan Dunia, sungguh unik, karena
pengarangnya, Abdurahman Faiz, berumur 8 tahun. Dia lahir di Jakarta, 15
November 1995. Ibunya, Helvy Tiana Rosa adalah pengarang, dan ayahnya,
Tomi Satryatomo, wartawan. Faktor genetik dan lingkungan kepenulisan
dengan budaya membaca di rumah, secara dini telah membentuk Faiz.
Sebelum menguasai aksara, cara bicara Faiz saja, karena puitiknya, sudah
menggemaskan orangtuanya. Di tahun 1998, dia mengatakan pada mamanya,
"Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga." Waktu itu Faiz
berumur 3 tahun. Konon banyak kata-kata bijak seperti itu berhamburan
dari anak ini karena dia suka berkisah dan gemar bermain peran seperti
dalam drama.
Sesudah mampu mengetik dengan komputer meja dan laptop orangtuanya, Faiz
mulai menulis. Tapi kalau menulis sajak, dia memilih layar telefon
genggam yang kecil itu untuk menaruh larik-larik sajaknya.
Dari dua puluh sajak Faiz yang ditulisnya mulai Juli 2001 sampai dengan
November 2003 ini, 8 mengenai ibu dan ayahnya, 7 tentang situasi sosial
dan 5 tentang tokoh masyarakat.
Kecintaan Faiz terhadap orangtuanya, pastilah karena lingkungan
interaksinya di rumah yang penuh kasih sayang pula. Saya kutipkan 2
ungkapannya yang orisinal (dari "Ayah Bundaku") dan mengharukan berikut
ini:
Ayah Bunda
kucintai kau berdua
seperti aku mencintai surga
Semoga Allah mencium ayah bunda
dalam tamanNya terindah nanti
(Januari 2002)
Dia lebih banyak menulis tentang ibunya. Sajaknya ada yang langsung,
terasa jelas apa yang dimaksudkannya, tapi ada pula yang maknanya
dibiarkannya menggantung, dan diserahkannya pada kita untuk menafsirkan
lebih lanjut:
JALAN BUNDA
bunda
engkaulah yang menuntunku
ke jalan kupu-kupu
(September 2003)
Lima sajak sosial Faiz menunjukkan kepekaan yang dalam terhadap
duka-derita kehidupan manusia. "Siti dan Udin di Jalan", sepanjang 8
bait, 38 baris berkisah tentang penggenjot becak beristerikan tukang
cuci pakaian, yang mewakili ribuan lagi orang senasib, yang "tetap
berdoa/agar bisa sekolah/dan punya rumah berjendela." Rumah kardus
mereka, menurut pengamatan Faiz, tak ada yang berjendela. Sebuah
pengamatan anak 8 tahun yang teliti.
Saya tersentak membaca "Pengungsi di Negeri Sendiri" (Oktober 2003).
Saya kok lupa pada saudara-saudara kita itu, satu juta jumlahnya
(mudah-mudahan sudah menyusut), akibat Balkanisasi dan perang saudara,
yang terusir dari rumah dan kampung halaman sendiri. Saya malu, saya
mulai lupa mereka. Cucunda Faiz, terima kasih. Engkau telah mengingatkan
aku lagi pada mereka. Mari kita berbuat sesuatu untuk orang-orang
sebangsa yang bernasib malang itu dan kita baca Al-Fatihah untuk mereka.
Al Fatihah.
Faiz juga kenal sejumlah tokoh, dan menulis sajak mengenai mereka, yaitu
Rasulullah Muhammad saw, tokoh novel super-populer Harry Potter, tokoh
novel Frodo (dari Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien), proklamator
Bung Hatta dan dua presiden, yaitu George W. Bush dan Megawati
Sukarnoputeri.
Ibunya diundang sebagai sastrawati berceramah di Universitas Madison,
Wisconsin dan Universitas Michigan, Ann Arbor, Michigan di bulan
September 2003. Pengetahuan umum Faiz bukan main, yang diketahuinya
lewat media massa dan tentunya percakapan di rumah, tentang kemungkinan
repotnya ibunya yang berjilbab pergi ke Amerika Serikat pada hari-hari
ini:
dari berita yang kubaca
Amerika penuh rekayasa
khawatir pun melanda
bila jilbab dijadikan masalah
Bagaimana bila bunda
tiba-tiba dianggap anggota alqaidah?
bukankah Presiden Amerika
menuduh dengan mudah
siapa saja yang tak dia suka?
Tapi syukurlah kekhawatirannya tak terjadi dan bundanya selamat
sepanjang perjalanan.
Faiz ikut Lomba Menulis Surat untuk Presiden RI sehubungan dengan Hari
Anak Nasional 2003 dan jadi pemenang pertama. "Surat buat Ibu Negara"
yang dimuat dalam kumpulan ini adalah bentuk sajak dari surat yang
memenangkan hadiah tertinggi dan menawan perhatian luas di media massa
Indonesia karena bijaknya. Dalam setiap bait dari keenam bait sajaknya
ini terdapat ungkapan, cita-cita dan saran pada Presiden RI dalam idiom
anak-anak yang segar.
Faiz sendiri juga bercita-cita kelak jadi presiden dengan kualifikasi
kecerdasan bisa bicara 10 bahasa, pandai membuat komputer sendiri,
dicintai orang-orang (dia tidak pilih kata klise rakyat) dan persyaratan
yang paling
berat: kalau mati masuk surga.
Sebagai penutup surat, setelah usul ini-itu yang dikhawatirkannya
menyinggung perasaan presiden, Faiz bersajak:
Sudah dulu ya.
Ibu jangan marah ya.
Kalau tidak senang
aku jangan dipenjara ya.
Terimakasih.
Kemampuan Faiz menulis, dalam perkiraan saya, 10 tahun melompati
umurnya. Remaja berusia 18 tahun, jika mampu menulis serapi ini, sudah
terbilang bagus sekali. Ayah bunda Faiz dititipi Allah bakat brilyan
yang mereka harus jaga dan tumbuhkan sebaik-baiknya. Janganlah sampai
kemashuran dini mengguncangnya dan mengganggu perkembangan psikologi
Faiz selanjutnya.
Mudah-mudahan ibunda Helvy dan ayahanda Tomi berhasil baik dan cucunda
Faiz mencapai cita-citanya dalam naungan ridha Allah SWT.
Amin.
Jakarta, Ramadhan 1404 H / 6 November 2003 M.
TERIMAKASIH DARI FAIZ
Faiz mengucapkan terimakasih tak terhingga kepada Allah SWT, kepada Ayah
dan Bunda atas cinta dan dukungan yang berlimpah. Juga untuk Pak Tuo
Taufiq Ismail yang aku kagumi. Om Jamal D. Rahman, Om Agus R. Sarjono
yang suka menyemangatiku lewat sms. Tante Medy Loekito, Pak Tuo Hamid
Jabbar, Om Ahmadun Y. Herfanda, Om Binhad Nurohmat yang sudah mau
membaca karya-karyaku sebelum menjadi buku. Untuk Oma Maria, Opa Amin,
Eyang Wiyati, Mami Rani, Papi Isa, Papi Eron, Mbak Menuk, Om Ferry, Om
Bimo, Tante Alif, Mbak Kiki, Caca, Adam, Om Ali Muakhir, Om Andi Yudha,
Penerbit Mizan, guru-guru dan teman-temanku semua. Kupersembahkan
puisi-puisi ini untuk kalian dan untuk dunia. Semoga bermanfaat ya.
Salam manis,
Abdurahman Faiz
HATTA
Engkau adalah kenangan
yang tumbuh dalam kepala dan jiwaku
Suatu malam kau datang dalam mimpiku
katamu:
jangan lelah menebar kebajikan
jadikan kesederhaan
sebagai teman paling setia
Aku anak kecil
berjanji menepati
jadi akan kusurati lagi
presiden kita
hari ini
(17 Agustus 2003)
PUISI BUNDA
bunda hanya sedikit mengarang puisi untukku
tapi semakin lama kuamati
senyuman bunda adalah puisi
tatapan bunda adalah puisi
teguran bunda adalah puisi
belaian dan doanya adalah puisi cinta
yang disampaikannya padaku
tak putus putus
tak putus putus
bahkan bila kutidur
(Mei 2003)
SITI DAN UDIN DI JALAN
Siti dan Udin namanya
sejak pagi belum makan
minum cuma seadanya
dengan membawa kecrekan
mengitari jalan-jalan ibu kota
Siti punya ayah
seorang tukang becak
ibunya tukang cuci
berbadan ringkih
Udin tak tahu di mana ayahnya
ditinggal sejak bayi
ibunya hanya pemulung
memunguti kardus dan plastik bekas
Mereka bangun rumah
dari triplek dan kardus tebal
di tepi kali ciliwung
tapi sering kena gusur
Bila malam tiba
mereka tidur di kolong jembatan
ditemani nyanyian nyamuk
dan suara bentakan preman
Siti dan Udin namanya
muka mereka penuh debu
dengan baju rombengan
menyanyi di tengah kebisingan
pagi sampai malam
tersenyum dalam peluh
menyapa om dan tante
mengharap receh seadanya
Beribu Siti dan Udin
berkeliaran di jalan-jalan
dengan suara serak
dan napas sesak oleh polusi
kalau hari ini bisa makan
sudah alhamdulillah
tapi tetap berdoa
agar bisa sekolah
dan punya rumah berjendela
(Februari 2003)
HARRY POTTER
Sudahkah kau temukan
ramuan paling rahasia itu
agar seluruh orang di dunia
bisa saling cinta?
(Oktober 2002)
AYAH BUNDAKU
Bunda
engkau adalah
rembulan yang menari
dalam dadaku
Ayah
engkau adalah
matahari yang menghangatkan
hatiku
Ayah Bunda
kucintai kau berdua
seperti aku mencintai surga
Semoga Allah mencium ayah bunda
dalam tamanNya terindah nanti
(Januari 2002)
MENARUH
Aku menaruh semua mainan
dan teman di sisiku
Aku menaruh bunda di hatiku
dekat sekali
dengan tempat kebaikan
Tapi
Aku tak bisa menaruh Allah
Ia menaruhku di bumi
bersama bunda dan semua
Ia ada dalam tiap napas
dan penglihatanku
Allah, hari ini kumohon
taruhlah para anak jalanan,
teman-teman kecilku yang miskin
dan menderita
dalam belaianMu
dan buatlah ayah bunda
menjadi kaya
dan menaruh mereka
di rumah kami
Amin.
(Juli 2001)
JALAN BUNDA
bunda
engkaulah yang menuntunku
ke jalan kupu-kupu
(September 2003)
SURAT BUAT IBU NEGARA
Kepada Yang Terhormat
Presiden Republik Indonesia
Megawati
Di Istana
Assalaamualaikum.
Ibu Mega, apa kabar?
Aku harap ibu baik-baik seperti aku saat ini.
Ibu, di kelas badanku paling tinggi.
Cita-citaku juga tinggi.
Aku mau jadi presiden.
Tapi baik.
Presiden yang pintar,
bisa buat komputer sendiri.
Yang tegas sekali.
Bisa bicara 10 bahasa.
Presiden yang dicintai orang-orang.
Kalau meninggal masuk surga.
Ibu sayang,
Bunda pernah cerita
tentang Umar sahabat Nabi Muhammad.
Dia itu pemimpin.
Umar suka jalan-jalan
ke tempat yang banyak orang miskinnya.
Tapi orang-orang tidak tahu kalau itu Umar.
Soalnya Umar menyamar.
Umar juga tidak bawa pengawal.
Umar jadi tahu
kalau ada orang yang kesusahan di negerinya
Dia bisa cepat menolong.
Kalau jadi presiden
aku juga mau seperti Umar.
Tapi masih lama sekali.
Harus sudah tua dan kalau dipilih orang.
Jadi aku mengirim surat ini
Mau mengajak ibu menyamar.
Malam-malam kita bisa pergi
ke tempat yang banyak orang miskinnya.
Pakai baju robek dan jelek.
Muka dibuat kotor.
Kita dengar kesusahan rakyat.
Terus kita tolong.
Tapi ibu jangan bawa pengawal.
Jangan bilang-bilang.
Kita tidak usah pergi jauh-jauh.
Di dekat rumahku juga banyak anak jalanan.
Mereka mengamen mengemis.
Tidak ada bapak ibunya.
Terus banyak orang jahat
minta duit dari anak-anak kecil.
Kasihan.
Ibu Presiden,
kalau mau, ibu balas surat aku ya.
Jangan ketahuan pengawal
nanti ibu tidak boleh pergi.
Aku yang jaga
supaya ibu tidak diganggu orang.
Ibu jangan takut.
Presiden kan punya baju tidak mempan peluru.
Ada kan seperti di filem?
Pakai saja.
Ibu juga bisa kurus
kalau jalan kaki terus.
Tapi tidak apa.
Sehat.
Jadi ibu bisa kenal orang-orang miskin
di negara Indonesia.
Bisa tahu sendiri
tidak usah tunggu laporan
karena sering ada korupsi.
Sudah dulu ya.
Ibu jangan marah ya.
Kalau tidak senang
aku jangan dipenjara ya.
Terimakasih.
Dari
Abdurahman Faiz
Kelas II SDN 02 Cipayung Jakarta Timur
PENGUNGSI DI NEGERI SENDIRI
Tak ada lagi yang menari
di antara tenda-tenda kumuh di sini
hanya derita yang melekat di mata
dan hati kami
Tidak satu nyanyian pun
pernah kami dendangkan lagi
hanya lagu-lagu airmata
di antara lapar, dahaga
pada pergantian musim
Sampaikah padamu, saudaraku?
(Oktober 2003)
BUNDA CINTAKU
Bunda
kau selalu ada di sisiku
kau selalu di hatiku
senyummu rembulan
baktimu seperti matahari
yang setia menyinari
dan cintamu adalah udara
yang kuhirup setiap hari
meski di dalam sedih
walau dalam susah
langkahmu pasti
jadikan aku insan berarti
terimakasih bunda cintaku
(November 2002)
TUJUH LUKA DI HARI ULANGTAHUNKU
Sehari sebelum ulangtahunku
aku terjatuh di selokan besar
ada tujuh luka membekas, berdarah
aku mencoba tertawa, malah meringis
Sehari sebelum ulangtahunku
negeriku masih juga begitu
lebih dari tujuh luka membekas
kemiskinan, kejahatan,
korupsi di mana-mana,
pengangguran, pengungsi
jadi pemandangan
yang meletihkan mata
menyakitkan hati
Tapi ada yang seperti lucu di negeriku
orang yang ketahuan berbuat jahat
tidak selalu dihukum
namun orang baik bisa dipenjara
Pada ulangtahunku yang kedelapan
aku berdiri di sini dengan tujuh luka
sambil membayangkan Indonesia Raya
dan selokan besar itu
Tiba-tiba aku ingin menangis
(15 November 2003)
YANTO DAN MAZDA
Yanto dan Mazda, tidurlah
malam telah larut
Frodo dan Sam sedang berjuang
memusnahkan Sauron
tidakkah sebaiknya kita
cium kening bunda
dan selekasnya masuk
lewat pintu-pintu mimpi
untuk membantu mereka?
(Februari, 2003)
SIAPA MAU JADI PRESIDEN?
menjadi presiden itu
berarti melayani
dengan segenap hati
rakyat yang meminta suka
dan menyerahkan jutaan
keranjang dukanya padamu
(November, 2003)
DARI SEORANG ANAK IRAK DALAM MIMPIKU, UNTUK BUSH
Mengapa kau biarkan anak-anak meneguk derita
peluru-peluru itu bicara pada tubuh kami
dengan bahasa yang paling perih
Irak, Afghanistan, Palestina
dan entah negeri mana lagi
meratap-ratap
Mengapa kau koyak tubuh kami?
apa yang kau cari?
apa salah kami?
kami hanya bocah
yang selalu gemetar mendengar
keributan dan ledakan
mengapa kau perangi bapak ibu kami?
Kini
kami tak pernah lagi melihat pelangi
hanya api di matamu
dan sejarah yang perih
tapi kami sudah tak bisa lagi menangis
Kami berdarah
Kami mati
(Oktober 2003)
PENULIS
Ayahku wartawan
bundaku sastrawan
dan akulah dia
yang susah payah
mengumpulkan semua cinta
semua duka
menjadikannya untaian kata
yang kualamatkan pada dunia
mungkin menjadi kebaikan
yang bisa dibaca siapa saja
dan sedikit uang
untuk kusedekahkan
pada fakir miskin
(Agustus 2003)
MUHAMMAD RINDUKU
Kalau kau mencintai Muhammad
ikutilah dia
sepenuh hati
apa yang dikatakan
apa yang dilakukan
ikuti semua
jangan kau tawar lagi
sebab ialah lelaki utama itu
memang jalan yang ditempuhnya
sungguh susah
hingga dengannya terbelah bulan
tapi kalau kau mencintai Rasul
ikutilah dia
sepenuh rindumu
dan akan sampailah kau padaNya
(April 2003)
KEPADA KORUPTOR
Gantilah makanan bapak
dengan nasi putih, sayur dan daging
jangan makan uang kami
lihatlah airmata para bocah
yang menderas di tiap lampu merah jalan-jalan Jakarta
dengarlah jerit lapar mereka di pengungsian
juga doa kanak-kanak yang ingin sekali sekolah
Telah bapak saksikan
orang-orang miskin memenuhi seluruh negeri
tidakkah menggetarkan bapak?
Tolong, Pak
gantilah makanan bapak seperti manusia
jangan makan uang kami
(Oktober 2003)
DOAKU HARI INI
Tuhanku
berikanlah waktumu padaku
untuk tumbuh di jalan cinta
dan menyemainya
di sepanjang jalan ayah bundaku
di sepanjang jalan Indonesiaku
di sepanjang jalan menujuMu
Amin
(Juli, 2003)
BUNDA KE AMERIKA
Sepucuk surat undangan sampai pagi ini di rumah kami
untuk bundaku tercinta
dari universitas di Amerika
aku tahu bundaku pintar
juga amat berbudaya
tak heran bila ia diundang bicara
sampai ke negeri adidaya
ia adalah muslimah ramah
dengan jilbab tak pernah lepas dari kepala
sehari-hari berbicara benar
dan tak henti membela yang lemah
dari berita yang kubaca
Amerika penuh rekayasa
khawatir pun melanda
bila jilbab dijadikan masalah
Bagaimana bila bunda
tiba-tiba dianggap anggota alqaidah?
bukankah Presiden Amerika
menuduh dengan mudah
siapa saja yang tak dia suka?
Maka aku minta kepada Allah
agar bunda dilindungi senantiasa
bunda tersenyum dan memelukku
ia teguh pergi dengan jilbab di kepala
katanya: hanya Allah maha penjaga
(September 2003)
PUISI BUNDA 2
Engkau adalah puisi abadiku
yang tak mungkin kutemukan dalam buku
(November 2003)
FAIZ
Nama lengkapnya Abdurahman Faiz, lahir di Jakarta, 15 November 1995.
Pada usia 13 bulan mengalami retak di tempurung kepala bagian belakang
karena terjatuh dari sebuah kursi tinggi. Dokter menganggap sebuah
mukjizat ketika dalam perkembangannya Faiz tak menunjukkan gejala
gangguan otak atau kecerdasan. Ia sempat dirawat 2 minggu di Rumah Sakit
karena hal tersebut.
Sejak usia 2 tahun Faiz sangat suka bercerita dan bermain peran. Ia
pernah
berkata: "Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga,"
ketika usianya baru 3 tahun.
Ya, sejak saat itu, setiap waktu, Faiz bisa tiba-tiba mengeluarkan
kalimat-kalimat puitis layaknya seorang penyair. Namun karena tidak
langsung ditulis, puisi-puisi itu banyak yang tidak terdokumentasi (Faiz
baru mulai mau menulisnya pertengahan tahun 2001).
Saat Faiz tahu buku ini akan terbit, misalnya, ia spontan berkata:
"Bunda, engkau adalah puisi abadiku, yang tak mungkin kutemukan dalam
buku." Dan seperti biasa, sang bunda langsung berseru, "Apa, nak?
Tunggu, kamu harus menuliskan kalimat itu! Itu puisi yang sangat indah!"
Pada usia 3 tahun pula ia bercerita dengan mimik serius tentang temannya
bernama Mimis. "Kasihan deh, Bunda. Mimis itu ibunya tukang cuci,
bapaknya satpam di mall. Ibunya sakit-sakitan sampai batuk darah. Mall
tempat bapaknya bekerja dibakar dan dijarah orang banyak. Aku kasihan
sekali padanya."
Tentu Bunda Faiz, Helvy Tiana Rosa yang juga seorang cerpenis
kebingungan. Seingatnya Faiz tak memiliki teman bernama Mimis. Lagi pula
anak itu bahkan belum masuk play group maupun TK. Tapi Faiz terus
bercerita. "Kasihan deh si Mimis itu. Kita harus menolong dong, Bunda."
Akhirnya Sang Bunda berkata: "Faiz, mari kita tolong Mimis. Dia tinggal
di mana? Kok bunda belum tahu?"
Tiba-tiba Faiz tertawa gelak: "Bunda..... bunda!" serunya masih menahan
tawa. "Mimis itu kan cuma teman khayalanku saja!"
Rupanya ia sudah mengerti konsep teman khayalan. Tinggal bundanya yang
geleng-geleng kepala. Sejak kecil Faiz juga sudah sering bertanya yang
aneh-aneh kepada bunda, maupun ayahnya: Tomi Satryatomo yang bekerja
sebagai wartawan. Misalnya: Ayah, mengapa angin itu tidak kelihatan?
Mengapa awan ada di atas? Kan kalau di bawah enak dijadikan tempat
tidur? Mengapa api dinamakan api? Mengapa laut asin? Mengapa Tuhan hanya
satu? Adakah orang tinggal di Bintang? Dan lain sebagainya.
Menjelang usia 5 tahun, Faiz masuk ke TK Pelita di dekat rumahnya.
Setahun kemudian ia didaftarkan ke SD negeri. Tapi, karena usianya belum
6 tahun, ia belum diterima. Baru pada usia menjelang 7 tahun ia masuk di
kelas I SDN 02 Cipayung yang juga tak jauh dari rumahnya.
Kegiatan sehari-hari Faiz adalah sekolah, les, mengaji dan bermain. Ia
juga suka sekali mempelajari alat elektronik. Ia terbiasa dengan
komputer sejak usia 3 tahun. Saat balita ia bisa mengoperasikan PDA,
laptop, internet, HP jenis apa pun, kamera digital bahkan handycam. Ia
juga sudah memiliki laptop sendiri--bekas bunda. Anehnya ia lebih suka
menulis puisi di HP.
Faiz yang suka berolahraga dan mengoleksi banyak buku ini, bercita-cita
menjadi seorang presiden yang juga professor. Agustus 2003 lalu, ia
menjadi Juara I Lomba Menulis Surat untuk Presiden, Tingkat Nasional,
yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, dalam rangka Hari Anak
Nasional 2003. Sejak saat itu ia kerap diburu wartawan dan menjadi tamu
dalam beberapa acara televisi antara lain Liputan 6 dan Who Wants to be
A President. Ia juga ditawari bermain sinetron tapi ia menolak.
"Ternyata menjadi terkenal itu tidak enak ya. Capek dikejar-kejar orang.
Semua mencium kita sembarangan. Tapi enaknya kita bisa gampang menolong
orang," komentar tiga besar di kelas II SDN 02 Cipayung yang juga
anggota Forum Lingkar Pena Kids ini.
KOMENTAR PARA PENYAIR
Puisi Faiz belum banyak, tetapi mampu menimbulkan keharuan yang mendalam
ketika saya membacanya. Ia bicara cinta dengan agung. Ia bicara agama
dengan anggun. Ia bicara derita manusia dengan bening. Mengutip akhir
puisi "Siti dan Udin di Jalan": dan punya rumah berjendela, nampaknya
sebuah keinginan sederhana, namun sesungguhnya teramat dalam maknanya,
sebab jendela adalah tempat kita menengok dunia luar, dan selama jendela
kita terbuka, hidup adalah indah. (Medy Loekito, penyair, Yayasan
Multimedia
Sastra)
Faiz, puisi-puisimu mencerminkan perasaan dan hatimu yang bening. Dari
puisi-puisimu aku tahu hati dan perasaanmu selalu bergolak melihat apa
pun di sekitarmu. Dan bahasamu sebening hatimu. (Jamal D. Rahman,
penyair, Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison)
Faiz, berpikir lebih 'gila' lagi, tapi tetap bicara dengan hati! (Hamid
Jabbar, Penyair, Redaktur Senior Majalah Horison)
Faiz, puisimu seperti danau, tempatku melihat bayang-bayang dan juga
ingatan masa kanakku, yang telah berdiri jauh di belakangku. (Binhad
Nurohmat, penyair, Koordinator Serikat Baca Dunia )
Sejujurnya, membaca sajak-sajak Faiz saya sungguh-sungguh tercengang. Ia
tampaknya dikaruniai bakat kepengarangan yang cukup luar biasa. Baru
berusia 8 tahun, tapi sudah mampu membuat sajak-sajak yang tidak hanya
indah dan rapi bahasanya, tapi juga sangat bermakna. Semoga dia kelak
menjadi sastrawan besar yang mampu mengharumkan nama bangsa. (Ahmadun
Yosi Herfanda, penyair. Redaktur Budaya Harian Republika)
Faiz, jalan kupu-kupu yang kau tempuh itu, membikinku ingin menjadi
kanak-kanak lagi. Karena meski surga ada di telapak kaki ibu, jalan ke
sana pastilah lewat kebeningan dan keriangan jiwa kanak, yang begitu
bercahaya dalam sajak-sajakmu. (Agus R. Sarjono, penyair, Ketua Dewan
Kesenian
Jakarta)
2003/10/19
GOLONGAN PUTIH alias GOLPUT
TAi
hehehe... edan 1st wordnya tai huhuhu keren kan. Politik Indonesia = politik uang, politik kekuasaan, politik orang gila, politik setan, politik pelacur, politik gigolo, politik apa lagi ? pokonya itu lah taun 2004 pemilu euy hehe hak politik gue baru bisa dipake disini, tapi sayang nih haknya dipenjara sama Undang Undang bau tai. Jelas aja rencananya gue mau golput eh ternyata ga boleh.. simple aja sih, mereka pasti tanya kenapa golput ? gue mo jawab hak gue dong :p, kan demokrasi mo milih mo engga hak asasi manusia dong, lagian kalo milih juga podo wae, sarua keneh ! tapi karena sudah kagok dipaksa harus memiilih saya akan jual hak pilihnya, untuk semua partai politik hak ini saya lelang ! harga pembukaannya 1 MILYAR rupiah harap dibayar setengah sebelum memilih dan setengahnya setelah selesai, kalau partai kalian menang harap ada bonusnya ! politikus anjing
ach ach pemerintah ngent*t
hei politikus bangsat
halo pemda brengsek
hey DPRD keparat
kamu wakil rakyat setan
dan presiden yang terhormat babi
kalian tukang makan darah rakyat kayak vampire
kalian semua tukang bohong dan tukang maen perempuan
kalian semua jahat suka menggusur seenaknya
kalian semua egois sombong dan selalu bertindak tercela
kalian memang sakit jiwa
indonesia yang kucinta
nasibmu ditangan mereka semua ini
janganlah kau diam anak bangsa
segera buat mereka bertobat
hiks................. maap kalo terlalu kasar
karena sudah terlalu lama terbelenggu
sekarang belenggu itu musnah di tulisan ini
mulai sekarang biarkan kita semua bebas untuk bicara
biarpun itu tidak berguna karena itulah demorkasi
bebas menyampaikan pendapat
peace all over indonesia
hehehe... edan 1st wordnya tai huhuhu keren kan. Politik Indonesia = politik uang, politik kekuasaan, politik orang gila, politik setan, politik pelacur, politik gigolo, politik apa lagi ? pokonya itu lah taun 2004 pemilu euy hehe hak politik gue baru bisa dipake disini, tapi sayang nih haknya dipenjara sama Undang Undang bau tai. Jelas aja rencananya gue mau golput eh ternyata ga boleh.. simple aja sih, mereka pasti tanya kenapa golput ? gue mo jawab hak gue dong :p, kan demokrasi mo milih mo engga hak asasi manusia dong, lagian kalo milih juga podo wae, sarua keneh ! tapi karena sudah kagok dipaksa harus memiilih saya akan jual hak pilihnya, untuk semua partai politik hak ini saya lelang ! harga pembukaannya 1 MILYAR rupiah harap dibayar setengah sebelum memilih dan setengahnya setelah selesai, kalau partai kalian menang harap ada bonusnya ! politikus anjing
ach ach pemerintah ngent*t
hei politikus bangsat
halo pemda brengsek
hey DPRD keparat
kamu wakil rakyat setan
dan presiden yang terhormat babi
kalian tukang makan darah rakyat kayak vampire
kalian semua tukang bohong dan tukang maen perempuan
kalian semua jahat suka menggusur seenaknya
kalian semua egois sombong dan selalu bertindak tercela
kalian memang sakit jiwa
indonesia yang kucinta
nasibmu ditangan mereka semua ini
janganlah kau diam anak bangsa
segera buat mereka bertobat
hiks................. maap kalo terlalu kasar
karena sudah terlalu lama terbelenggu
sekarang belenggu itu musnah di tulisan ini
mulai sekarang biarkan kita semua bebas untuk bicara
biarpun itu tidak berguna karena itulah demorkasi
bebas menyampaikan pendapat
peace all over indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)